My Sex Diary-Meluapnya Kerinduan Kekasih

Siang itu aku bertandang ke rumah Dinda yang cukup asri, Dia yang mengundangku ke sini. Kebetulan memang kami sudah beberapa hari tak bertemu muka. Ku parkir motor Tiger kesayanganku di depan garasinya. Di depan pintu Dinda sudah berdiri menungguku dengan senyumannya yang aku yakin mampu meruntuhkan hati lelaki manapun. Yahh..setidaknya itu berhasil untukku

“Hallo Mas Agus sayang..” sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku.
“Hallo juga.. Sayang,” balasku pendek.
“Sudah lama yah nunggunya,” lanjutku lagi.

Antara aku dan Dinda memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah dinda nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti malam atau malah besoknya.

Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata.
“Mas kangen banget nih sayang,” bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya.
“aku juga kangen Masku sayang..” jawabnya pelan.

Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu Dinda dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah.

“Kamu cantik sekali siang ini sayang..” kataku lembut.
Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Dinda tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya.

Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 34b itu.

Jemari tanganku langsung mengelus tepian toketnya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual.

“Ohh.. Mas sayang..” desahnya lembut.
Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri toketnya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung toketnya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali.

“Ohh.. Mas sayang.. Enak sekali.”
Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata.

“Sayang.. toket kamu sungguh indah bentukya,” bisikku lirih di telinganya.
dinda hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak Dinda berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya.

Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy dinda dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. dinda masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh dinda kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut.

Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh dinda kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau dinda sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh dinda. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy.

Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih.

“Oh.. Mas sayang..” desahnya parau.
Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan.

“Ssshh..” desisnya lirih.
Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar dinda mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu memeknya yang menyerupai garis segitiga.

Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar memeknya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang memeknya. Tubuh dinda mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas memek miliknya oleh ujung lidahku.

“Ohh.. Mas sayang” jeritnya tertahan.
“Aku nggak kuat Mas..” tambahnya lirih.
Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh dinda dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap kontolku yang sudah berdiri tegang sekali.
Dengan gerakan lincah bibir dinda langsung mengulum kepala kontolku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala kontolku yang mengkilat.

Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang kontolku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku.

“Ohh.. Sayang” desahku pelan.
Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat dinda menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai.

Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang kontolku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir memeknya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah memeknya.

“Oh.. Mas sayang.. Please.. Aku enggak kuat” jeritnya lirih.
Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua toketnya bergantian dan berakhir di puting toket yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar.

“Ohh.. Mas sayang.. Sekarang yah” pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu.
Perlahan aku mengarahkan batang kontolku tepat di belahan memeknya dan mendorongnya lembut.
“Slepp..” irama yang di timbulkan ketika kontolku sudah menyeruak bibir memeknya.
Kembali bibir dinda mengeluarkan desahan sexynya.
“Owhhhhh.. Mmm..” gumamnya lirih.

Setengah dari batang kontolku sudah masuk ke dalam memeknya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang kontolku ke rongga memeknya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung kontolku menyentuh itilnya. Mulut dinda menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya.

“Mmm.. Mmm” gumamnya.
Sambil menahan nikmat, tangan dinda menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya dinda akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih.

“Ohh.. Mas sayangg..” jeritnya bergetar.
Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga memeknya menjepit erat batang kontolku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang dinda kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata.

“Thanks yah.. Mas sayang”ucapnya mesra.
Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan.
“Aku bahagia.. kalau sayang bisa menikmati semua ini” ucapku kemudian.
Hanya beberapa saat setelah dinda mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan memeknya yang menggairahkan.

Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang kontolku dan mengarahkannya tepat di bibir memeknya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap kontolku menyeruak sedikit demi sedikit membelah memeknya lembut.

“Slepp..” masuklah setengah batang kontolku ke dalam rongga memeknya.
“Sss..” dinda mendesah menerima desakan kontolku.
Tanganku perlahan meremas toketnya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga memeknya lebih dalam.

Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang kontolku dapat menyentuh itilnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua toket berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya.

“Ohh.. Mas sayang” desahnya.
Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan kontolku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan memeknya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua toketnya lembut.

“Sayang…..ahhh….ohhh….sa yang……terus sayang…….Owhhhh………” Dinda terus mendesah dan meracau. Sementara gerakan pinggulku makin cepat. Kedua tanganku kini mencengkeram pinggangnya yang ramping. Dinda kini hanya bertumpu pada tangan kirinya, karena tangan kanannya sibuk meremasi dan memelintir toketnya sendiri. Tak lama kemudian kurasakan lagi denyutan dan jepitan pada memeknya menandakan dia menjelang orgasme nya

“owh..sayang..sayangg…owh… akh..akh..akhhhhhhhhhh….!!!! !!!!!!!!!!!!!!” jeritan panjangnya menandai orgasme yang dialaminya. Tubuhnya melengkung dan tangannya meremas toketnya. Kuhujamkan kontolku dalam-dalam sambil meremas pinggangnya.

Setelah orgasmenya mereda, kuangkat tubuhnya yang sudah basah oleh keringat lalu kubaringkan ke ranjangnya yang rapi.
Segera kulumat bibirnya dan kusedot lidahnya, tanganku meremas toketnya dengan liar. Dinda membalas lumatanku dan kemudian mendorong tubuhku hingga terlentang. Diraihnya kontolku lalu diarahkannya ke memeknya yang sudah basah oleh cairan cintanya.

“Owhhh…….” lengguhnya saat kontolku menghujam dalam ke memeknya. Dinda segera menggerakkan tubuhnya naik turun dengan tangannya meremas kakiku. Toketnya bergoyang indah mengikuti gerakan tubuhnya. Sengaja tak kusentuh toket itu karena aku suka melihatnya brgoyang. Dinda rupanya tahu karena ia lalu memintaku meremasnya

“sayang, remas toket adek sayang. Ayo sayang.” dibungkukkannya badannya . Dan segera kuangsurkan bibirku untuk mengulumnya. Kumainkan lidahku di putting sebelah kanan, sementara tangaku meremas dan memilin putting yang sebelah kiri. Pinggulku tak tinggal diam. Ikut bergerak mengikuti gerakan pingul dinda yang makin lama makin cepat.

“iya sayang…terus sayang..iyah…isep toket adek sayang…iyahh..iyahh….Akhhh hhh…” Orgasme kembali melandanya. Tubuhnya mengejang beberapa saat sebelum akhirnya ambruk menindihku. Segera kubalikkan tubuhnya dan kulebarkan kakinya. Kedua tangannya berpeganyan pada kisi-kisi atas ranjang, kontolku langsung kutusukkan ke memeknya yang sudah banjir. Segera kugerakkan dengan tempo tinggi.

“Owh…lagi sayan…adek pengen lagi sayang…..Owh….”
“Sayang pengen lagi…pengen lagi.” tanyaku sambil terus menggenjot dan meremasi toket dinda

“iya sayang….adek pengen lagi, kita keluar bareng yah sayang.”Aku makin bersemangat menggenjot memeknya. Kepala dinda sudah bergerak kekiri dan kana menahan birahinya yang seolah tak berhenti melandanya. Kubungkukkan badan untuk mencium bibirnya yang disambut jilatan dan kuluman lidahnya yang buas.

“Sayang aku mau keluar nih,” bisiku lirih.
“Ohh.. Mas sayang aku juga mau” sahutnya pelan.”Keluarin di dalam sayang. ya…adek sedang ngga subur.”
“Adek mau dikeluarin didalam.”
“Iya sayang.adek minta sayang. Memek adek pengen disemprot. …ayo sayang…adek gak tahan sayang.”

Aku mempercepat gerakanku memompa memeknya tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua toketnya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua toketnya erat dan memajukan kontolku lebih dalam.

“Owh…… Ohh.. Sayang,” Dinda menjerit dan tubuhnya melengkung ke atas.
Kudorong kontolku dalam-dalam ke memeknya yang basah, hangat dan berdenyut nikmat. Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga memeknya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya.

Badanku ambruk lemas menindihnya yang disambut belaian di punggungku. Kusergap bibir dinda yang sexy dan kulumat mesra. Dinda menyambutnya dengan memainkan lidahnya di rongga mulutku. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya kontolku mengecil dengan sendirinya di dalam memeknya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan.

(from : Saung_kampret )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: