Archive for February, 2010

Dinner dengan SPG pilihanku (Real Story by SU4EVER)

February 16, 2010
Semua ini berawal dari perkenalanku dengan seorang SPG ketika salah satu perusahaanku akan melaunching suatu produk baru di salah satu mal terkenal di kotaku.

Oh ya, perkenalkan aku, sebut saja namaku Nino… bagi yang sudah menjadi langganan www.kas kus.com pasti mengenal ID ku karena aku adalah (dengan tidak menyombongkan diri) salah satu sepuh disana. Buruan gih cek.

Dan bagi temen – temen yang sudah menjadi langganan web tersebut pasti tahu dimana lokasiku karena beberapa saat yang lalu aku telah membuat daftar nomer bispak dan bisyar di kotaku. Jadi bias dibilang ceritaku kali ini (dan mudah2an ada yang berikut2nya adalah minimal 90% berdasarkan kejadian nyata, mungkin 10% adalah tempat, nama yang bersangkutan, dan waktu kejadian)

Ok, cukup perkenalannya… kembali ke cerita utama. Pada saat itu perusahaan kami memilih 3 orang SPG karena akan ada 3 variant baru yang akan di launching, jadi rencananya masing – masing SPG akan memegang masing – masing variant dan harapannya menguasai spesifikasi masing – masing variant tersebut.

Aku sebagai salah satu manager marketing berkesempatan dengan EO untuk menentukan para SPG yang akan kami pilih. Setelah menghubungi agency di kotaku, kami mendapat 7 orang SPG dengan penampilan serupa tapi tak sama.

Salah satu yang sudah pasti aku pilih (walopun belum sempat berkenalan) adalah Anita. Dengan postur tinggi sekitar 170an cm dan body langsing, hidung mancung…. setelah usut punya usut ternyata Anita ini adalah murid SMA kelas 3 dan berdarah Manado. Kulitnya putih bersih. Yang ini untuk cerita lain kali deh…

Yang kedua dan ketiga bisa dikatakan merupakan pilihan para EO walapun pilihan mereka juga tidak mengecewakan. Sebenarnya ada salah satu dari 4 yang tidak terpilih yang aku sempat tertarik, akhirnya dapat juga nomer telepon SPG yang tidak terpilih tersebut. Namanya Dina. Juga masih keturunan Manado. Tingginya sekitar 165cm. Badan juga langsung. Aku ga ngerti kenapa para EO ga memilih dia, cuman mungkin menurut perkiraanku karena dua lainnya sudah langganan (ato ada special treatment kepada para EO itu)… Oleh karena itu aku putuskan untuk mengirim SMS ke Dina, isinya “Dina yah? Ini Nino yg tadi, Sorry banget yah belom kesampaian kerja sama kita.”

Salah satu alasanku milih yang ini karena tidak adanya hubungan kerja, sehingga pastinya tidak perlu adanya embel – embel nantinya… clean sheet lah….

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya dibalsanya “Oh Kak Nino, gpp kok Kak. Belom rejeki kali”. Segera aja aku bales dnegan pd-nya “Gimana kalo sebagai gantinya Kak Nino traktir kamu makan, mana td sore udah sampai keringetan gitu”

Nokia tune segera berbunyi “Ummm… kapan ya Kak? Dina musti ijin orang tua Dina dulu”… Shit, dalam abtinku… kayaknya salah pilih neh … trus aja aku bales “Malem sabtu gimana? Jam 7 gt? Kebetulan Jumat ini Kak Nino pulang cepat kok.”. Dijawabnya “Ok, tau rumah Dina Kak Nino?” bla bla bla…. udah deh, pas malem sabtu aku jemput pake mobil dinas.

Ternyata rumahnya lumayan besar, dan ternyata orang tuanya juga sedang keluar. Menurut dia bahkan sampai malam… Ok, langsung kita makan di tempat yang ‘jarang’ orangnya…..

Sambil makan, aku muali gencar melemparkan pertanyaan – pertanyaan pancingan:
Udah punya pacar?
Udah berapa kali pacaran?
Siapa pacar terakhir?
Kenapa putus? à sambil pasang wajah simpatik

Terbongkar deh semuanya, ternyata Dina udah pacaran lebih dari 5 kali… sampai diapun juga ga inget…

Sambil diselingi minum Shirley Temple dan beberapa cocktail lainnya (pokoknya habis deh separo gaji sebulan)… kuar juga neh cewe minumnya… separo mabuk, aku ajakkin untuk karaoke. Ternyata dia cek ke rumah, ortunya belum pulang. Sehingga dengan alasan cuman ditemani pembantu di rumah, dia meng iyakan, asal ga terlalu malam (dalam hati gw jawab ga malem lah, kan pulangnya pagi).

Setelah cek in kamar karaoke (bukan karaoke keluarga pastinya), kiat milih2 lagu yang memang kurang lengkap… Booking 2 jam tp 1 jam ada sms masuk, ternyata ortunya langsung ke luar kota, ada urusan keluarga mendadak, sehingga pulangnya baru besok harinya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aku tambahin lagi coctailnya dan tentu saja sebagai gentlemen, akupun juga menenggak beer sampai hampir 3 botol besar.

Akupun mulai berani curi2 cium, pertama di tangan… sambil melihat dia menyanyi mulai lagi menyerang bagian leher, sedikit lidah mulai naik ke telinga…. wangi banget tubuhnya… Roknya mulai aku singkap dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan sudah mulai meraba pinggulnya. Akhirnya kukulum mulutnya… diapun membalas dengan ganas, liar. Roknya pun kini sudah terangkat ke atas. Entah disadari atau tidak, tangannya pun sudah mulai mengarah ke kemaluanku yang mulai tergerak sadar.

Kulitnya benar2 halus… setelah kiss selama kurang lebih 5 menit…. kubernikan untuk membuka tali bajunya sehingga nampaklah buah dadanya yang masih bewarna merah muda. Mulai kukulum bagian kirinya… diapun mulai mendesah desah. Dan tangan kiri ku pun tanpa diminta sudah mulai bergerilya masuk ke dalam CD nya. Basah… bener dugaanku…

Akupun mulai tersadar bahwa waktu booking hampir habis, sehingga langsung kebisikkan “Lanjut yuk…” dijawabnya dnegan anggukan dan desahan…

Langsung saja kurapikan bajunya dan segera kubayar bill dan kitapun langsung menuju mobil.

Di dalam mobil… tanganku sudah menyerang ke dada, paha, bahkan ke dalam CD nya…. Tangannya pun ga mau kalah, dan segera meremas – remas kemaluanku yang sudah berdiri tegang. “Cium dunk Din”… dikulumnya kemaluanku. Sambil mengemudi ke arah hotel yang lumayan jauh, sehingga benar – benar saja kunikmati kuluman Dina. Bahkan buah zakar ku pun dijilat – jilatnya dengan penuh kesabaran.

Setelah cek in, langsung saja kerebahkan dia di ranjang, kujilat vaginanya… masih harum. Celana dalam sudah tertinggal di mobilku. Terus kujilat vaginanya sambil kumainkan clitorisnya. Setelah mendesah – desah, langsung saja kubuka seluruh pakaiannya. Kujila semua bagian tibuhnya… lengannya yang mulus, pahanya yang putih, perutnya yang ramping.

Segera aku pakai sarung yang sudah kuambil dari laci mobilku. Penetrasi pertama agak sulit, ternyata sempat di keringkan dengan tissue sama dia, saking basahnya katanya. Akhirnya kujilat lagi vaginanya, sehingga memudahkan penetrasi kemaluanku.

Standard gaya missionari untuk 10 menit, ternyata tidak mampu memuaskan dia, dengan aggresif dia langung memutarkan badannya sehingga woman on top dan dengan jongkok dia mulai menggerak gerakkan pinggulnya. Aku hanya mampu menikmati sensasi dan pemandangan dari bawah.

“Yang, enak banget”… katanya… aku yang setengah mabok hanya dapat bergumam “Sejak kapan kamu sayang aku? Hehehe….” Memang bener, cewe lebih sering mengucapkan kata sayang setika sedang nge sex.

Setelah 10 menitan dia berada di atas. Langsung saja kupindahkan menjadi doggie style… Lendir dari vagina ynag kemerah mudaannya banyak sekali. Hanya 5 menit doggie style… dia langsung mendesah keras “Yanggggggg….. enak bangetttttt”

Ternyata sudah sampai dia… Jujur aja, kalo setengah mabok atau mabok, lebih susah bagiku untuk mencapai oragsme karena kurang pekanya kemaluanku. Sehingga menjadi kelebihanku dalam memuaskan wanita, terutama jika aku minum alkohol.

Langsung saja kubalikkan lagi ke posisi favoritku, dengan kedua tanganku memegang kedua kakinya yang membentuk huruf V. Kuhantam – hantamkan kemaluanku dengan keras sampai dia menjerit lagi setelah 10 menitan. “Gila, dua kali sudah neh”…. Ngga lama kemudian…. akupun memuncratkan maniku ke perutnya. Dia sudah menutup mata, capek, ngantuk katanya….

Setelah bersih – bersih di kamar mandi… kitapun tidur sampai pagi….

Keesokkan paginya sempat melakukannya lagi sebelum kita check out. Kuantarkan dia pulang jam 11 siang. Untung ortunya belum pulang dari luar kota.

Sekian cerita pertama dari aku, moga – moga berkenan. Sarannya aku dengarkan….

Thanks…

(SU4EVER)

Janda .. Pengalaman Pertamaku

February 16, 2010

Kisah ini berawal ketika saya pulang liburan akhir semester lalu dari bandung. Hampir 2 minggu saya habiskan disana dengan ‘reuni’ bareng temen-temen saya waktu SMA dulu yang kebetulan kuliah disana. Saya sendiri kuliah di kota budaya, Jogjakarta. Waktu itu saya tiba diterminal bis di kota Bandung pukul 2 siang, meskipun bis Bandung – Jogja yang saya tumpangi baru berangkat 2 jam kemudian. Saat sedang asyik membolak-balik Taboid Olahraga kesukaan saya, tiba-tiba seorang anak kecil berusia 4 tahunan terjatuh didepan saya, sontak tangan ku menarik si gadis kecil itu.

“Makasih Dik, maklum anak kecil kerja nya lari-lari mulu” ungkap seorang wanita setengah baya seraya mengumbar senyum manisnya. Namun walau hampir kepala tiga, Mbak Titin, demikian dia memperkenalkan dirinya pada saya, masih keliatan seperti gadis muda yang lagi ranum-ranum nya…. dada gede (34B), pantat bahenol dibarengi pinggul seksi membuat ku terpaku sejenak memandanginya.
“Maaf, boleh saya duduk disini” suara Mbak Titin dengan logat sundanya yang khas memecah ‘keheningan’ saya
“Ssii… silakan Mbak,” balas ku sambil menggeser pantat ku dibangku ruang tunggu bis antar kota di kota kembang itu.
“Mau kemana mbak’”saya coba membuka pembicaraan.
“Anu… saya the mau ke jogja. Biasa beli barang-barang buat dagang. Adik mau kemana?”
“Sama, jogja juga. Mbak sendiri?” pandangan ku melirik payudara nya yang belahan nya jelas dari kaos lumayan ketat yang dipakainya.
“Ya, tapi ada yeyen kok” katanya sambil menunjuk si kecil yang asik dengan mainannya.
“Saya Andi Mbak” ucapku sambil mengulurkan tangan yang langsung disambutnya dengan ramah.
“Kalo gitu saya manggilnya mas aja ya, lebih enak kedengarannya” ungkap si mbak dengan kembali mengumbar senyum manisnya. Mungkin karena ketepatan jurusan kami sama, saya dan Mbak Titin cepat akrab, apalagi apa karna kebetulan ato gimana, kami pun duduk sebangku di bis yang memang pake formasi seat 2-2 itu.
Dari ceritanya ku ketahui kalo Mbak Titin janda muda yang ditinggal cerai suami sejak 2 thn lalu. Untuk menyambung hidup dia berjualan pakaian dan perhiasan yang semua dibeli dari jogja. Katanya harga nya murah. Rencananya di Jogja 2-3 hari..
Pukul 4.30 sore, bis meninggalkan terminal tersebut, sementara didalam bis kamu bertiga asyik bercengkarama, layaknya Bapak-Ibu-Anak, dan cepat akrab saya sengaja memangku si kecil Yeyen, sehingga Mbak Titin makin respek pada saya. Tak terasa, waktu terus berjaan, suasana bis begitu hening, ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam. Si kecil Yeyen dan para penumpang lain pun sudah terlelap dalam tidur. Sedangkan saya dan Mbak Titin masih asyik dalam obrolan kami, yang sekali-kali berbau ha-hal ‘jorok’, apalagi dengan tawa genitnya Mbak Titin sesekali mencubit mesra pinggang saya. Suasana makin mendukung karna kami duduk dibangku urutan 4 dari depan dan kebetulan lagi bangku didepan,belakang dan samping kami kosong semua.
“Ehmm..mbak, boleh tanya ga nih, gimana dong seandainya pengen gituan kan dah 2 taon cerainya.” tanya ku sekenanya.
“Iiihh, si mas pikiran nya..ya gimana lagi, palingan usaha sendiri… kalo ga,ya… ini,si Yeyen yang jadi sasaran marah saya, apalagi kalo dah sampe di ubun-ubun.” jawabnya sambil tersipu malu.
“Masa… Ga mungkin ga ada pria yang ga mau sama mbak, mbak seksi, kayak masih gadis” aku coba mengeluarkan jurus awal.
Tiba-tiba si yeyen yang tidur pulas dipangkuan Mbak Titin, nyaris terjatuh.. sontak tangan ku menahannya dan tanpa sengaja tangan kami bertemu. Kami terdiam sambil berpandangan, sejenak kemudian tangan nya ku remas kecil dan Mbak Titin merespon sambil tersenyum. Tak lama kemudian dia menyandarkan kepalanya di bahu ku, tapi aku mencoba untuk tenang, karena ‘diantara’ kami masih ada si kecil yeyen yang lagi asik mimpi..ya memang ruang gerak kami terbatas malam itu. Cukup lama kami berpandangan, dan dibawah sorot lampu bis yang redup, ku beranikan mencium lembut bibir seksi janda cantik itu.
“Ssshhh… ahhh… mas” erangnya, saat lidah ku memasuki rongga mulutnya, sementara tangan ku, walau agak sulit, karna yeyen tidur dipangkuan kami berdua, tapi aku coba meremas lembut payudara seksi nan gede itu.
“Terus mas… enak….. ouhhhh” tangan nya dimasukin aja mas, gak keliatan kok’” rengeknya manja.
Adegan pagut dan remas antara kami berlangsung 20 menitan dan terhenti saat yeyen terbangun…
“Mama…, ngapain sama Om Andi” suara yeyen membuat kami segera menyudahi ‘fore play’ ini dan terpaksa semuanya serba nanggung karna setelah itu Yeyen malah ga tidur lagi.
“Oya, ntar di Jogja tinggal dimana Mbak” tanya ku.
“Hotel Mas… Napa? Mas mau nemenin kami…???”
“Bisa, ntar sekalian saya temenin belanjanya, biar gampang, ntar cari hotelnya disekitar malioboro aja.”
=======
Pukul 7 pagi akhirnya kami tiba di terminal Giwangan, Jogja… dari terminal kami bertiga yang mirip Bapak-Ibu dan anak ini, nyambung bis kota dan nyampai dikawasan malioboro setengah jam kemudian.. setelah muter-muter, akhirnya kami mendapatkan hotel kamar standart dengan doble bed dikawasan wisata jogja itu.
Setelah semua beres, si room boy yang mengantar kami pamit.
“Yeyen, mau mandi atau langsung bobo chayank?”
“Mandi aja, Ma… Oya, Om Andi nginep bareng kita ya..?” si yeyen kecil menanyaiku
“Ya, biar mama ada temen ngobrolnya.” jawab Mbak Titin sambil ngajak Yeyen ke kamar mandi yang ada dalam kamar. Di dalam ternyata si mbak telah melepas pakaiannya dan hanya melilitkan handuk di tubuh seksinya.
Dengan posisi agak nungging, dengan telaten Mbak Yeyen menyabuni si Yeyen, dan karena pintu kamar mandi yang terbuka, nampak jelas cd item yang membalut pantat seksi itu. Seperti Mbak Titin sengaja memancing naluriku, karena walau tau aku bisa ‘menikmati’ pemandangan tersebut, pintu kamar mandi tidak ditutup barang sedikitpun.
Tak lama kemudian, Yeyen yang telah selesai mandi , berlari masuk ke dalam kamar..
“Gimana, Yeyen udah seger belom?” godaku sambil mengedipkan mata ke arah Mbak Titin
“Seger Om…. Om mau mandi??”
Belum sempat ku jawab…..
“Ya ntar Om Mandi mandinya bareng mama, sekarang yeyen bobo ya…” celetuk Mbak Titin sambil tersenyum genit kearah ku.
Selagi Mbak Titin menidurkan anaknya, aku yang sudah masuk ke kamar mandi melepas seluruh pakaian ku dan ‘mengurut-urut’ penis ku yang sudah tegang dari tadi. Lagi asiknya swalayan sambil berfantasi, Mbak Titin ngeloyor masuk kamar mandi.
Aku kanget bukan kepalang..
“Udah gak sabar ya……” godanya sambil memandagi torpedo ku yang sudah ‘on fire’
“Haa… aaa… Mbak…” suaraku agak terbata-bata melihat Mbak Titin langsung melepas lilitan handuknya hingga terpampang payudara nya yang montok yang ternyata sudah ga dibungkus BH lagi, tapi penutup bawah nya masih utuh.
Tanpa mempedulikan kebengongan ku, Mbak Titin langsung memelukku.
“Jangan panggil Mbak dong. Titin aja” rengeknya manja sambil melumat bibirku dan tangan kirinya dengan lembut mengelus-elus kemaluan ku yang semakin ‘on fire’.
Aku sudah dirasuki nafsu biarahi langsung membalas pagutan Titin dengan tatkala ganasnya. Perlahan jilatan erotis Mbak Heny turun ke leher, perut… hingga sampe dibatang kemaluan ku.
“Berpengalaman sekali dia ini…” pikirku.
Jilatan yang diselingi sedotan, kuluman dibatang kemaluan hingga buah pelir ku itu membuatku serasa terbang melayang-layang….
“Ohhhh… Titin… nikkk… mat… teruss… isepppp” desahku menahan nikmatnya permainan oral janda seksi ini sambil mengelus-elus rambutnya.
15 menit lamanya permainan dahsyat itu berlangsung hingga akhirnya aku merasa sesuatu yang ingin keluar dari penis ku.
“Akhh… hh… aku keulu..aaarrr…” erangku diikuti semprotan sperma ku dimulut Titin yang langsung melahap semua sperma ku persis seperti anak kecil yang melahap es paddle pop sambil tersenyum ke arahku..
Setelah suasana agak tenang, aku menarik tangan Titin untuk berdiri, dan dalam posisi sejajar sambil memeluk erat tubuh sintal janda seksi ini, mulutku langsung melumat mulut Titin sambil meremas-remas pantatnya yang padat. Titin membalasnya dengan pagutan yang tatkala ganas sambil tangan nya mengenggam penisku yang masih layu dan mengurut-urutnya. Dan dengan buasnya aku mengecup dan menyedot dari leher terus merambat hingga ke payudara nya yang padat berisi.
“Oohhh.. Ndi…. ahhkkhh.” erangnya tatkala mulutku mulai bermain di ujung putingnya yang tegang dan berwarna coklat kemerahan. Tanpa melepas lumatan pada mulut Titin, perlahan aku mulai mengangkat tubuh sintal tersebut dan mendudukannya diatas bak mandi serta membuka lebar-lebar pahanya yang putih mulus. Tanpa dikomando aku langsung berlutut, mendekatkan wajahku kebagian perut Titin dan menjilati yang membuat Titin menggelinjang bak cacing kepanasan.
Jilatin ku terus merambat ke bibir vagina nya yang licin tanpa sehelai bulu pun. Sesaat kemudian lidahku menjilati sambil menusuk-nusuk lubang vagina Titin, yang membuatnya mengerang histeris.
“Ndi… sudah…. Ndi… masukinn punyamu…. aku sudah ga tahan…. ayo sayang…” pinta nya dengan nafas memburu.
Tak lama kemudian aku berdiri dan mulai menggesek-gesekkan penis ku yang sudah tegang dan mengeras dibibir vagina Titin yang seseksi si empunya.
“Sudah…. say…. aku ga ta.. hann… nnn… masukin..” rengek Titin dengan wajah sayu menahan geora nafsunya.
Perlahan namun pasti penisku yang berukuran 17 cm, ku masukkan menerobos vagina Titin yang masih sempit walau sudah berstatus janda itu.
“Pelann… dong say.. sudah 2 tahun aku gak maen..” pinta nya seraya memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri saat penisku mulai menerobos lorong nikmat itu.
Ku biarkan penis ku tertanam di vagina Titin dan membiarkan nya menikmati sensasi yang telah dua tahun tak dia rasakan. Perlahan namun pasti aku mulai mengocok vagina janda muda ini dengan penis ku yang perkasa. Untuk memberikan sensasi yang luar biasa, aku memompa vagina Titin dengan formasi 10:1, yaitu 10 gerakan menusuk setengah vagina Titin yang diukuti dengan 1 gerakan full menusuk hingga menyentuh dinding rahimnya. Gerakan ini ku selingi dengan menggerakkan pantatku dengan memuter sehingga membuat Titin merasa vagina nya diubek, sungguh nikmat yang tiada tara terlihat dari desisan-desisan yang diselingi kata-kata kotor keluar dari mulutnya..
“Ouggghh…. kontolmu enak say… entot Titin terus say… nikmat” rintihnya sambil mengimbangi gerakanku dengan memaju-mundurkan pantatnya.
Tiga puluh menit berlalu, Titin sepertinya akan mencapai orgasmenya yang pertama. Tangan nya dengan kuat mencengkram punggung ku seolah meminta sodokan yang lebih dalam di vaginanya. Titin menganggkat pinggulnya tinggi-tinggi dan menggelinjang hebat, sementara aku semakin cepat menghujam kan penisku di vagina Titin…
“Ooouhhh…. aaahhhh…. hhh…” erang Titin saat puncak kenikmatan itu dia dapatkan..
Sejenak Mbak Titin kubiarkan menikmati multi orgasme yang baru saja dia dapatkan. Tak lama kemudian tubuh sintal Mbak Titin ku bopong berdiri dan kusandarkan membelakangi ku ke dinding kamar mandi. Sambil menciumi tengkuk bagian belakang nya, perlahan tangan ku membelai dan mengelus paha mulus Mbak Titin hingga tangan ku menyentuh dan meremas kemaluan nya dari belakang, membuat nafsu birahinya bangkit kembali. Rangsangan ini ku lakukan hingga aku persis berjongkok dibelakang Titin. Apalagi setelah jilatan merambat naik ke vagina Mbak Titin dan mengobok-obok vagina yang semakin menyemburkan aroma khas. Tak cukup sampai disitu, wajahku ku dekatkan kebelahan pantat montok itu dan mulai mengecup dan menjilati belahan itu hingga akhirnya Mbak Titin seakan tersentak kaget kala aku menjulurkan dan menjilati lubang anus nya, sepertinya baru kali ini bokong seksi dan anusnya dijilati.
“Ouhh…. aakhh… ssstt…. jorok say…. apa kamu lakukan… jilat memek titin aja..” celotehnya .
Sepuluh menit berlalu, aku kemudian berdiri dan menarik pantat montok nan seksi itu kebelakang dan penisku yang semakin tegang itu ku gosok-gosokan disekitar anus Titin…
“Ouh… ca… kittt… say… jangan disitu, Titin lom pernah say…” rengeknya sambil menahan saat perlahan penisku menerobos masuk anusnya. Setelah sepenuhnya penisku tertelan anus Titin, ku diamkan beberapa saat untuk beradaptasi seraya tangan ku meremas-remas kedua payudaranya yang menggantung indah dan menciumi tengkuk hingga leher belakang dan sampai ke daun telinga nya.
“Nikk… matt… say..” hanya itu yang keluar dari mulut seksi Titin.
Merasa cukup, aku mulai memaju mundurkan penis ku secara perlahan mengingat baru kali ini anusnya dimasuki penis laki-laki. Setelah beberapa gerakan kelihatan rasa sakit dan perih yang dirasakannya tadi sudah berganti dengan rasa nikmat tiada tara.
Perlahan Mbak Titin mulai mengimbangi gerakan ku dengan goyangan saat penis ku semakin memompa anusnya, sambil tangan kananku mengobok-obok vagina nya yang nganggur.
“Aahhh… ooohhh… laur biasa say… nikmat…” Desah Titin menahan nikmatnya permainan duniawi ini. 30 menit berlalu dan aku merasa puas mempermainkan anus Mbak Titin, perlahan ku tarik penisku dan mengarahkan nya secara perlahan ke vagina, dan memulai mengobok-obok vagina itu lagi. 20 menit kemudian aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku, hingga aku semakin mempercepat gerakan sodokan ku yang semakin diimbangi Titin yang sepertinya juga akan mendapatkan orgamasme keduanya.
Diiringa lolongan panjang kami yang hampir bersamaan, secara bersamaan pula cairan hangat dan kental dari penisku dan vagina Titin bertemu di lorong nikmat Titin.. Nikmatnya tiada tara, sensasi yang tiada duanya..
Tak lama berselang, aku menarik penisku dan mendekatkan nya ke mulut Mbak Tiitn yang langsung dijilatinya hingga sisa-sisa sperma yang masih ada dipenisku dijalatinya dengan rakus.
“Tak kusangka mas sehebat ini.. baru kali ini aku merasa sepuas ini. Badan kecil tapi tenaganya luar biasa. Aku mau mas… aku mau kamu mas…” puji Mbak Titin padaku dengan pancaran wajah penuh kepuasan tiada tara…
Sesaat kemudian kami saling membersihkan diri satu dengan lainnya, sambil tentunya sambil saling remas. Saat keluar mandi terihat Yeyen masih terdidur pulas, sepuas mama nya yang baru saja ku ‘embat’.
Setelah Yeyen bangun, kami bertiga jalan-jalan disekitar malioboro hingga malam. Pukul 9 malam kami tiba di hotel, namun kali ini sambil memandikan Yeyen, Mbak Titin tampaknya sekalian mandi.. Saat keluar kamar mandi tanpa sungkan wanita sunda ini melepas handuknya untuk selanjutnya mengenakan daster tipis yang tadi baru kami beli dari salah satu toko di kawasan malioboro.
“Mas.. mandi dulu gih..” ungkapnya saat aku mendekatkan diri dan mengecup lembut bibirnya yang langsung disambutnya.
“Iihh.. mama dan om Andi, ngapain..?” protes si kecil yeyen saat kami sesaat berpagutan didepan meja hias yang tersedia di kamar hotel itu.
Setelah aku selesai mandi, ku lihat Titin lagi ngeloni Yeyen, dan tampaknya kedua ibu-anak ini kecapean setalah jalan-jalan disekitar malioboro.
Akhirnya ku biarkan Titin tidur dan aku gak ngantuk sama sekali mencoba mengisi waktu dengan menyaksikan live liga Inggris yang waktu itu ketepatan menyajikan big match .. Jam 12 malam lebih saat tayangan bola rampung, perlahan aku mendekati Titin dan mulai membelai-belai betis indah janda muda itu dari balik daster tipisnya hingga nyampe pangkal pahanya. Ketika tanganku mulai mengusap-usap vagina, Titin terbangun. Ku ajak dia pindah ke bed satunya, sambil ku lucuti daster tipis yang didalamnya tanpa beha tersebut. Dengan hanya menggunakan CD tipis berwarna krem, tubuh bahenol itu ku bopong dan ku lentang kan di ranjang satunya, agar kami lebih leluasa dan si Yeyen kecil bisa tidur tenang. Sambil menindihnya, ku remas dan kecup puting payudara putih dan montok itu.
“Aahhh…. mas…” erangnya manja.
Jilatan ku terus merambah menikmati inci per inci tubuh seksi itu hingga sampe di gundukan nikmat tanpa sehelai rambut pun.. Hampir 20 menit lidah ku bermain dibagian sensitive itu, hingga akhirnya..
“Ayo dong mas… cepeten masukin… dah ga tahan nih…”
Perlahan kusapukan penis ku di vagina mungil itu. kelihatan sekali Titin menahan napas sambil memejamkan mata nya dengan sayu dan menggigit bibir bawahnya. Akhirnya burung ku masuk ‘sarang’. Ku pertahankan posisi itu beberapa saat, dan setelah agak tenang aku mulai menyodok perlahan vagina yang semakin basah itu.
Erangan dan desahan nikmat yang keluar dari mulut seksi janda sintal ini, menandakan dia sangat menikmati permainan duniawi ini.. Tanpa malu dia mendesah, mengerang bahkan diselingi kata-kata kotor yang membangkitkan gairah.. Sementara di bed sebelahnya si kecil Yeyen masih tertidur pulas..
Titin, si Jada seksi yang lagi, ku garap seakan tidak memperdulikan keberadaan putrinya si kecil, Yeyen..
25 menit-an kami ‘bertempur’ dalam posisi konvensional itu, perlahan ku angkat tubuh Mbak Titin hingga kini dia posisinya diatas. Posisi yang nikmat, karna selain menikmati memek nya aku juga bisa dengan leluasa meremas, mencium dan sesekali mengulum payudara montok yang ber-ayun dengan indah itu.. baru 15 menit,tiba-tiba tubuh Titin mengejang diikuti lenguhan panjang..
“Aaaacchh…. aauugghh… Ann.. ddii.. aakku.. kkeelluaa.. aa.. rr…”
Tak lama Titin menghempaskan tubuhnya di dada ku, seraya mulut kami berpagutan mesra. 5 menit lama nya ku biarkan dia menikmati orgasme nya. Beberapa saat, karna aku belum apa-apa, aku minta Titin menungging karna aku pengen menikmati nya dengan posisi dogstyle.. Dalam posisi nungging keliatan jelas pantat indah janda kota kembang ini.. Perlahan ku kecup dan jilati belahan pantat seksi itu. Secara perlahan jilatan ku sampe ke vagina mungilnya, Titin menggelinjang dan menggelengkan-gelengkan kepalanya menahan nikmat.. disaat itu, tanpa kami sadari.. si kecil Yeyen bangun dan menghampiri kami.
“Om Andi.. ngapain cium pantat mama..” selidiknya sambil terus mendekat memperhatikan memek mama nya yang ku lahap habis..
“Adek tenang aja ya.. jangan ganggu Om Andi… Mama lagi maen dokter-dokteran dengan Om Andi. Ntar mam mau di cuntik .. Yeyen diem aja ya…” Titin coba menenangkan gadis kecil itu..
“Ehmm.,.. hayo Om… cuntik Mama Yeyen cekaaa.. lang Om.. dah ga tahan neh..” rengek Titin.. sedangkan si Yeyen terlihat duduk manis dipinggiran bed satunya, siap menyaksikan adegan yang semestinya belum pantas dia saksikan..
Perlahan penis ku yang sudah on fire ku gosok-gosokkan dari lubang memek Titin hingga menyentuh anusnya, dari arah memek hingga lubang anusnya. Dan karena tak tega menyaksikan Titin semakin meracau dan merengek minta segera di ’suntik’, secara perlahan ku arahkan penis ku ke liang senggama nya yang licin oleh cairan vagina nya..
“Om, kok Mama Yeyen dicuntik pake burung Om..” protes si kecil yang belum ngerti apa-apa itu.
“Aauhh… ahh….. lebih dalam Mass.. sss.. Ann.. dddi..” pinta Titin dalam erangan dan desahan nikmat nya tanpa mempedulikan keberadaan Yeyen yang terlihat bingung melihat mama nya, antara kesakitan atau menahan nikmat.
30 menit berlalu, aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari ujung penis ku. Agar lebih nikmat, ku putar tubuh sintal janda kembang ini tanpa mencabut penis ku hingga kami kembali paad posisi konvesional.
“Ti… tiiinn.. aku mau keluar” erang ku mencoba menahan muntahan lahar nikmat yang semakin mendesak ini…
“Ntar.. Masss.. ss.. tahann… kita bareng…” Erangnya dengan mata terpejam seraya menggigit kedua bibirnya menahan genjotan ku yang semakin kencang di vaginanya..
Kedua tangan nya mencengkram punggung ku, dan dadanya diangkat membusung, seluruh badannya tegang mengencang, diikuti dengan lenguhan panjang kami berdua.
“Aaaccchhh…. aaauuggghh…” Maniku dan mani nya akhirnya bertemu di lorong kenikmatan itu sementara bibir kami berpagut mesra dan tangan kanan ku meremas payudara nya yang mengecang saat kami orgasme bareng tadi. Sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan itu, kami masih berciuman mesra sambil berpelukan mesra, sementara penisku masih ‘tertanam’ di memeknya. Sadar dari tadi Yeyen terus memperhatikan kami, Titin dengan wajahnya yang penuh kepuasan sejati, mengedipkan matanya seraya melihat ke arah Yeyen sambil tersenyum manis.. dan aku pun menghempaskan tubuh ku disampingnya, dan saat penis ku akan ku cabut..
“Nggak usah Mas.. biarin aja dulu di dalem..” rengeknya manja dan segera ku hadiahi ciuman mesra di keningnya.. Tak lama kemudian Yeyen mendekati kami yang baru saja permainan ranjang yang begitu dahsyat..
Hari berikutnya selama Ibu dan anak ini di Jogja, kami terus melakukan hubungan seks ini, dengan berbagai variasi dan teknik yang lebih mesra.. bahkan kadang kami melakukan nya di kamar mandi saat mandi.. Malahan kami tak peduli lagi dengan keberadaan Yeyen. Titin juga tak segan mengoral penis ku dihadapan Yeyen..
Liburan tahun baru lalu aku mendatangi nya di Bandung dan menginap selama se minggu lebih di rumah Janda seksi itu.. kepada tetangga sekitar dia mengenalkan aku sebagai keponakan jauhnya.. Dan yang paling penting, kami menghabiskan waktu dengan bermain seks sepuasnya, apalagi si kecil Yeyen telah dia titipkan ditempat orang tuanya di karawang, sedang selama aku disana, dia sengaja meliburkan pembantu nya..
Begitulah kisah seks ku dengan Titin, si janda seksi.. Dan pembaca, entah kenapa, sejak saat itu, untuk urusan seks aku merasa lebih menikmati permainan dengan wanita setengah baya.

(hendry888888)

Biaya anter pulang Vani

February 16, 2010

Kuliah jam terakhir di kampus S di kawasan Jakarta Selatan baru saja berakhir. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan hari pun mulai gelap. Vani, mahasiswi semester 4 fakultas Ekonomi dengan rambut sebahu berwarna brunette berjalan meninggalkan kampus menuju halte depan kampus. Sesampainya di halte, Vani merasa agar kurang nyaman. Mata para cowok penjual rokok dan si timer memelotinya seolah ingin menelanjanginya.

Tersadarlah Vani bahwa hari itu dia memakai pakaian yang sangat sexy. T-shirt putih lengan pendek dengan belahan rendah bertuliskan WANT THESE?, sehingga tokednya yang berukuran 36C seolah hendak melompat keluar, akibat hari itu Vani menggunakan BH ukuran 36B (sengaja, biar lebih nongol). Apalagi kulit Vani memang putih mulus. Di tambah rok jeans mini yang digunakannya saat itu, mempertontonkan kaki jenjang & paha mulusnya karena Vani memang cukup tinggi, 173cm.

”Buset, baru sadar gue kalo hari ini gue pake uniform sexy gue demi ngadepin ujiannya si Hutabarat, biar dia gak konsen”, pikir Vani.

Biasanya Vani bila naik angkot menggunakan pakaian t-shirt atau kemeja yang lebih tertutup dan celana panjang jeans, demi menghindari tatapan dan ulah usil cowok-cowok di jalan. Siang tadi Vani ke kampus datang numpang mobil temannya, Angel. Tapi si Angel sudah pulang duluan karena kuliahnya lebih sedikit.

Vani tambah salah tingkah karena cowok-cowok di halte tersebut mulai agak berani ngliatin belahan tokednya yang nongol lebih dekat lagi. ”Najis, berani amat sih nih cowok-cowok mlototin toked gw”, membatin lagi si Vani. Vani menggunakan bukunya untuk menutupi dadanya, tapi mereka malah mengalihkan pandangan mesumnya ke pantat Vani yang memang bulat sekal dan menonjol.

Makin salah tingkahlah si Vani. Mau balik ke kampus, pasti sudah gelap dan orang sudah pada pulang. Mau tetap di halte nungguin angkot, gerah suasananya. Apalagi kalo naik bus yang pasti penuh sesak jam segini, Vani tidak kebayang tangan-tangan usil yang akan cari-cari kesempatan untuk menjamahi tubuhnya. Sudah kepikiran untuk naik taxi, tapi uang tidak ada. Jam segini di kos juga kosong, mau pinjam uang sama siapa bingung. Vani coba alternatif terakhir dengan menelpon Albert cowoknya atau si Angel atau Dessy teman2nya yang punya mobil, eh sialnya HP mereka pada off. ”Buset, sial banget sih gue hari ini.”

Mulailah celetukan mesum cowok-cowok di halte dimulai ”Neng, susunya mau jatuh tuh, abang pegangin ya. Kasihan, pasti eneng keberatan hehe”. Pias! Memerahlah muka Vani. Dipelototin si tukang ojek yang berani komentar, eh dianya malah balas makin pelototin toked si Vani. Makin jengahlah si Vani.

Tiba-tiba sebuah sedan BMW hitam berhenti tepat di depan Vani. Jendelanya terbuka, dan nongolah seraut wajah hitam manis berambut cepak sambil menyeringai, si Ethan. Cowok fakultas Ekonomi satu tahun di atas Vani, berkulit hitam, tinggi besar, hampir 180cm.
”Van, jualan lo disini? Hehe”.Vani membalas
”Sialan lo, gue ga ada tumpangan neh, terpaksa tunggu bus. Than, anter gue ya” pinta Vani.

Vani sebenarnya enggan ikut bersama si Ethan karena dia terkenal suka main cewek. Tapi, dilihat dari kondisi sekarang, paling baik memang naik mobil si Ethan. Tapi si Ethan malah bilang ”Wah sory Van, gue harus pergi jemput nyokap gue. Arahnya beda sama kosan elo”. ”Than, please anter gue ya. Ntar gw traktir deh lo” rajuk Vani. Sambil nyengir mesum Ethan berucap ”Wah kalo ada bayarannya sih gue bisa pertimbangin”. ”Iya deh, ntar gue bayar” Vani asal ucap, yang penting bisa pergi segera dari halte tersebut. ”Hehe sip” kata Ethan sambil membuka pintu untuk Vani. Vani masuk ke dalam mobil Ethan, diiringi oleh pandangan sebel para cowok-cowok di halte yang kehilangan santapan rohani.Mobil Ethan mulai menembus kemacetan ibu kota.

”Buset dah lo Van, sexy amat hari ini”.
Kata Vani ”Gue sengaja pake uniform andalan gue, karena hari ini ada ujian lisannya si Hutabarat, Akuntasi Biaya. Biar dia ga konsen, n kasi gw nilai bagus hehe”.
”Gila lo, gue biarin bentar lagi, lo udh dient*tin sama tu abang-abang di halte haha” balas Ethan.
“Sial, enak aja lo ngomong Than” maki Vani.

Sambil mengerling ke Vani, Ethan berucap “Van, bayaran tumpangan ini, bayar sekarang aja ya”. ”Eh, gue bawa duit cuma dikit Than. Kapan2 deh gue bayarin bensin lo” balas Vani. “Sapa yang minta diduitin bensin, Non” jawab Ethan. “Trus lo mau apa? Traktir makan” tanya Vani bingung. “Ga. Ga perlu keluar duit kok. Tenang aja” ucap Ethan misterius. Semakin bingung si Vani. Sambil menggerak-gerakan tangan kirinya si Ethan berkata ”Cukup lo puasin tangan kiri gue ini dengan megangin toked lo. Nepsong banget gue liatnya”. Seringai mesum Ethan menghiasi wajahnya. Seperti disambar petir Vani kaget dan berteriak ”BANGSAT LO THAN. LO PIKIR GUE CEWE APAAN!!”. Pandangan tajam Vani pada wajah Ethan yang tetap cengar-cengir. “Yah terserah lo. Cuma sekenyot dua kenyot doang. Apa lo gue turunin disini” kata Ethan. Pada saat itu mereka telah sampai di daerah yang gelap dan banyak gubuk gelandangan. Vani jelas ogah. “Bisa makin runyam kalo gue turun disini. Bisa2 gue digangbang” Vani bergidik sambil melihat sekitarnya. ”Ya biarlah si Ethan bisa seneng-seneng bentar nggranyangi toked gue. Itung-itung amal. Kampret juga si Ethan ini”. Akhirnya Vani ngomong ”Ya udah, cuma pegang susu gue doang kan. Jangan lama-lama” Vani ketus. ”Ga kok Van, cuma sampe kos lo doang” kata Ethan penuh kemenangan. ”Sialan, itu sih bisa setengah jam sendiri. Ya udhlah, biar cepet beres nih urusan sialan” pikir Vani.

Tangan kiri Ethan langsung terjulur meraih toked Vani sebelah kanan bagian atas yang menonjol dari balik t-shirtnya. Vani merasakan jari-jari kasar Ethan dikulit tokednya mulai membelai-belai pelan. Darah Vani agak berdesir ketika merasakan belaian itu mulai disertai remasan-remasan lembut pada toked kanan bagian atasnya. Sambil tetap menyetir, Ethan sesekali melirik ke sebelah menikmati muka Vani yang menegang karena sebal tokednya diremas-remas. Ethan sengaja jalanin mobil agak pelan, sementara Vani tidak sadar kalau laju mobil tidak secepat sebelumnya, karena konsen ke tangan Ethan yang mulai meremas-remas aktif secara bergiliran kedua bongkahan tokednya.

Nafas Vani mulai agak memburu, tapi Vani masih bisa mengontrol pengaruh remasan-remasan tokednya pada nafsunya ”Enak aja kalo gue sampe terangsang gara-gara ini” pikir Vani. Tapi Ethan lebih jago lagi, tiba-tiba jari-jarinya menyelusup kedalam t-shirt Vani, bahkan langsung masuk kedalam BH-nya yg satu ukuran lebih kecil. Toked Vani yang sebelah kanan terasa begitu penuh di telapak tangan Ethan yang sebenarnya lebar juga. ”Ahh…!” Vani terpekik kaget karena manuver Ethan. ”Hehe buset toked lo Van, gede banget. Kenyal lagi. Enak banget ngeremesinnya. Tangan gue aja ga cukup neh hehe” ujar Ethan penuh nafsu.

Ethan melanjutkan gerakannya dengan menarik tangan kirinya beserta toked Vani keluar dari BH-nya. Toked sebelah kanan Vani kini nongol keluar dari wadahnya dan terekspos full. ”Wuah..buset gedenya. Pentilnya juga gede neh. Sering diisep ya Van” kata Ethan vulgar. ”Bangsat lo Than. Kok sampe gini segala” protes Vani berusaha mengembalikan tokednya kedalam BH-nya. Tangan Vani langsung ditahan oleh Ethan ”Eh, inget janji lo. Gue boleh ngremesin toked lo. Mo didalam BH kek, di luar kek, terserah gue”. Sambil cemberut Vani menurunkan tangannya. Penuh kemenangan, Ethan kembali menggarap toked Vani yang kini keluar semuanya.

Remasan-remasan lembut di pangkal toked, dilanjutkan dengan belaian memutar disekitar puting, membuat Vani semakin kehilangan kendali. Nafasnya mulai memburu lagi. Apalagi Ethan mulai memelintir-melintir puting Vani yang besar dan berwarna pink. Gerakan memilin-milin puting oleh jari-jari Ethan yang kasar memberikan sensasi geli dan nikmat yang mulai menjalari toked Vani. Perasaan nikmat itu mulai muncul juga disekitar selangkangan. Perasaan geli dan getaran-getara nikmat mulai menjalar dari bawah puser menuju ujung selangkangan Vani. ”Ngehek nih cowok. Puting gue itu tempat paling sensitif gue. Harus bisa nahan!” membatin si Vani.

Tapi puting Vani yang mulai menegang dan membesar tidak bisa menipu Ethan yang berpengalaman. ”Hehe mulai horny juga nih lonte. Rasain lo” pikir Ethan kesenangan. Karena berusaha menahan gairah yang semakin memuncak, Vani tidak sadar kalau Ethan sudah mengeluarkan kedua bongkah tokednya. Tangan kiri Ethan semakin ganas meremas-remas toked dan memilin-milih kedua puting Vani. Ucapan-ucapan mesum pun mulai mengalir dari Ethan “Nikmatin aja Van, remasan-remasan gue. Puting lo aja udh mulai ngaceng tuh. Ga usah ditahan birahi lo. Biarin aja mengalir. memek lo pasti udah mulai basah sekarang”. Vani sebal mendengar ucapan-ucapan vulgar Ethan, tapi pada saat yang sama ucapan-ucapan tersebut seperti menghipnotis Vani untuk mengikuti libidonya yang semakin memuncak. Vani juga mulai merasakan bahwa celana dalamnya mulai lembab.

“Sial..memek gue mulai gatel. Gue biarin keluar dulu kali, biar gue bisa jadi agak tenangan. Jadi habis itu, gue bisa nanganin birahi gue walopun si Ethan masih ngremesin toked gue” pikir Vani yang mulai susah menahan birahinya. Berpikir seperti itu, Vani melonggarkan pertahanannya, membiarkan rasa gatal yang mulai menjalari memeknya menguat. Efeknya langsung terasa. Semakin Ethan mengobok-ngobok tokednya, rasa gatal di memek Vani semakin memuncak. “BUSETT. Cuma diremes-remes toked gue, gue udah mo keluar”. Vani menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah, ketika kenikmatan semakin menggila di bibir memeknya. Ethan yang sudah memperhatikan dari tadi bahwa Vani terbawa oleh birahinya, semakin semangat menggarap toked Vani.

Ketika melihat urat leher Vani menegang tanda menahan rasa yang akan meledak di bawahnya, jari telunjuk dan jempol Ethan menjepit kedua puting Vani dan menarik agak keras kedepan. Rasa sakit mendadak di putingnya, membawa efek besar pada rasa gatal yang memuncak di memiaw Vani. Kedua tangan Vani meremas jok kuat-kuat, dan keluar lenguhan tertahan Vani “Hmmmffhhhhhhh….”. Pada saat itu, memek Vani langsung banjir oleh cairan pejunya. Pantat Vani mengangkat dan tergoyang-goyang tidak kuat menahan arus orgasmenya. “Oh..oh..hmmffhh” Vani masih berusaha menahan agar suaranya tidak keluar semua, tapi sia-sia saja. Karena Ethan sudah melihat bagaimana Vani orgasme, keenakan karena tokednya dipermainkan. “Hahaha dasar lonte lo Van. Sok ga suka. Tapi keluarnya sampe kelonjotan gitu” Ngakak Ethan penuh kemenangan.

Nafas Vani masih tidak beraturan, dan agak terbungkuk-bungkuk karena nikmatnya gelombang orgasme barusan. “Kampret lo Than” maki Vani perlahan. “Lo boleh seneng sekarang. Tapi berikut ga bakalan gue keluar lagi. Gue udah ga horny lagi” tambah Vani yang berpikir setelah dipuasin sekali maka libidonya akan turun. Tapi, ternyata inilah kesalahan terbesarnya. Beberapa saat setelah memeknya merasakan orgasme sekali, sekarang malah semakin berkedut-kedut, makin gatal rasanya ingin digesek-gesek. ”Lho, kok memek gue makin gatel. Berkedut-kedut lagi. Aduuuh..gue pengen memek gue dikontolin sekaraangg..siaall..” sesal Vani dalam hati. Ethan seperti tahu apa yang berkecamuk dalam diri (dan memek) Vani. Walaupun Vani bilang dia tidak horny lagi, tapi nafasnya yang memburu dan putingnya yang semakin ngaceng mengatakan lain. Ethan menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan bersemak yang memang sangat sepi, dan tangannya langsung bergerak ke setelan kursi Vani.

Tangan satunya langsung menekan kursi Vani agar tertidur. Vani yang masih memakai seatbealt, langsung ikut terlentang bersama kursi. ”EEHHH…APA-APAAN LO THAN??” Teriak Vani. Tidak peduli teriakan Vani, tangan kiri Ethan langsung meremas toked Vani lagi, sedang tangan kanannya langsung meremas memek Vani. ”OOUUHHHH……….!!” lenguh Vani keras, karena tidak menyangka memeknya yang semakin gatel dan berkedut-kedut keras akan langsung merasakan gesekan, bahkan remasan. Akibatnya, Vani langsung orgasme untuk kedua kalinya. Ethan tidak tinggal diam, ketika badan Vani masih mengejang-ngejang, jari-jarinya menggesek-gesek permukaan celana dalam Vani kuat-kuat. Akibatnya, gelombang orgasme Vani terjadi terus-menerus.

”Oouuuhh…Aghhhh…Ouhhhhhhhh hh Ethaannnnn…!! Teriak Vani makin keras karena kenikmatan mendadak yang menyerang seluruh selangkangan dan tubuhnya. Kedua tangan Vani semakin kuat meremas jok, mata memejam erat dan urat-urat leher menonjol akibat kenikmatan yang melandanya. Ketika gelombang orgasme mulai berlalu, Vani mulai membuka matanya dan mengatur pernafasannya. Rasanya jengah banget karena keluar begitu hebatnya di depan si Ethan. ”Aseem, napa gue keluar sampe kaya gitu sih. Bikin tengsin aja. Tapi, emang enak banget. Udah semingguan gue ga ngentot” batin Vani.

Saat Vani masih enjoy rasa nikmat yang masih tersisa, Ethan sudah bergerak di atas Vani, mengangkat t-shirt Vani serta menurunkan BH-nya kekecilan sehingga toked Vani yang bulat besar terpampang jelas di depan hidung Ethan. Tersenyum puas dan napsu banget Ethan berucap ”Gilaa..toked lo Van. Gede banget, mengkal lagi. Harus gue puas-puasin ngenyotinnya ni malem”. Ethan langsung menyergap kedua toked Vani yang putingnya masih mengacung tegak. Mulutnya mengenyot toked yang sebelah kanan, sambil tangan kanannya meremas-remas & memilin-milin puting yang sebelah kiri. Diisap-isap, lidah Ethan juga piawai menjilat-jilat dan memainkan kedua puting Vani. Gigitan-gigitan kecil dipadu remasan-remasan gemas jemari Ethan, membuat Vani terpekik ”Ehhgghh ahh.. ahh.. Ehhtanhnn.. kahtanya.. kahtanya cuma pegang-pegang..kok.. kok sekarangg.. loh ngeyotin tohked guehh…ahh..ahh..” kata Vani sambil tersengal-sengal nahan birahi yang naik lagi akibat rangsangan intensif di kedua tokednya. Ethan sudah tidak ambil pusing ”Hajar bleh. Kapan lagi gue bisa nikmatin toked kaya gini bagusnya”.

Sekarang kedua tangan Ethan menekan kedua toked Vani ketengah, sehingga kedua putingnya saling mendekat. Kedua puting Vani langsung dikenyot, dihisap & dimainin oleh lidah Ethan. Sensasinya luar biasa, Vani semakin terhanyut oleh birahinya. Desahan pelan tertahan mulai keluar dari bibir ranum Vani. Lidah Ethan mulai turun menyusuri perut Vani yang putih rata, berputar-putar sejenak di pusernya. Tangan kanan Ethan aktif membelai-belai dan meremas paha bagian dalam Vani. ”Aah..ah.. emhh.. emh..Than.. lo ngapahin sihh..” keluh Vani tak jelas. Dengan sigap Ethan menyingkap rok mini Vani tinggi-tinggi. Memperlihatkan mini panty La Senza Vani berwarna merah. Agak transparan, dibantu cahaya lampu jalan samar-samar memperlihatkan isinya yang menggembung montok. Jembi Vani yang tipis terlihat hanya diatas saja, dengan alur jembi ke arah pusernya. ”Buseett..sexxyy bangett.. bikin konak gue ampir ga ketahan.” syukur Ethan dalam hati.

Tanpa babibu lagi jari-jari Ethan langsung menekan belahan memiek Vani, dan Ethan langsung mengetahui betapa horny-nya Vani ”Wah Van, memek lo udah becek banget neh. Panty lo aja ampe njeplak gini hehe”. Vani cuma bisa menggeleng-geleng lemah, sambil tetap menggigit bibir bawahnya, karena jemari Ethan menenekan dan menggesek-gesek memeknya dari atas panty. ”Thaan..than..singkirinn tangan lo doong….emh..emh..” keluh Vani perlahan, tapi matanya memejam dan gelengannya semakin cepat. ”Wah, harus cepat gw beri teknik lidah gue neh, biar si Vani makin konak hehe” pikir Ethan napsu.

Cepat Ethan ambil posisi di depan selangkangan Vani yang terbuka. Kursi Vani dimundurkan agar beri ruang cukup untuk manuver barunya. Paha Vani dibuka semakin lebar, dan Vani nurut saja. Jemari Ethan meraup panty mungil Vani, dan membejeknya jadi bentuk seperti seutas tali sehingga masuk kedalam belahan memek Vani. Ethan mulai menggesek-gesekkan panty Vani ke belahan memiawnya dengan gerakan naik turun dan kiri kanan yang semakin cepat. ”Aah.. aahh…ehmm..ehhmm.. uuh.. hapaan itu Etthann ahh…” desah Vani keenakan, karena gesekan panty tersebut menggesek-gesek bibir dalam memeknya sekaligus clitorisnya. Ethan juga semakin konak melihat memek Vani yang terpampang jelas.
Dua gundukan tembem seperti bakpau, mulus tanpa ada jembi di sekelilingnya, cuma ada dibagian atasnya saja.

”Van, memek lo ternyata mantap & montok banget. Pasti enak kalo gue makan neh. Apalagi sampe gue genjot nanti hehe” ujar Ethan penuh nafsu. Panty Vani dipinggirkan sehingga lidah Ethan dengan mudah mulai menjilati bibir memiaw Vani. Tapi sebentar saja Ethan tidak betah dengan panty yang mengesek pipinya. Langsung diangkatnya pantat Vani, dan dipelorotkan panty-nya.

Kini antara Ethan dan memek Vani yang tembem dan mulus, sudah tidak ada penghalang apa-apa lagi. Ethan langsung menyosorkan mulutnya untuk mulai melumat bakpao montok itu. Tapi, Vani yang tiba-tiba memperoleh kesadarannya, karena ada jeda sesaat ketika Ethan melepaskan pantynya, berusaha menahan kepala Ethan dengan kedua tanggannya. ”Gila lo Than, mo ngapain lo?? Jangan kurang ajar ya. Bukan gini perjanjian kita!” ujar Vani agak keras. Tapi kedua tangan Vani dengan mudah disingkirkan oleh tangan kiri Ethan, dan tanpa dapat dicegah lagi mulut Ethan langsung mencaplok memek Vani. Ethan melumatnya dengan gemas, sambil sekali lidah menyapu-nyapu clitoris dan menusuk-nusuk kedalam memiaw. Bunyi kecipakan ludah dan peju Vani terdengar jelas. Konak Vani yang sempat turun, langsung naik lagi ke voltase tinggi. Kepala Vani mengangkat dan dari bibirnya yang sexy keluar lenguhan agak keras.

”Ouuuffhhh….eeahh…ah. .ah lo apain mehmmek gue Thann..” erang Vani nyaris setengah sadar.

Rasa gatal yang hebat menyeruak dari sekitar selangkangannya menuju bibir-bibir memeknya. Rasa gatal itu mendapatkan pemuasannya dari lumatan bibir, jilatan lidah dan gigitan kecil Ethan. Tapi, semakin Ethan beringas mengobok-obok memek Vani dengan mulut, dibantu dengan ketiga jarinya yang mengocok lubang memek Vani, rasa gatal nikmat itu malah semakin hebat. Vani sudah tidak dapat membendung konaknya sehingga desahan dan erangannya sudah berubah menjadi lenguhan.

” OUUHHHHG….. HMMPPHH… ARRGGHH.. HAHHH.. OUHHH..”.

Kepala Vani menggeleng ke kiri dan kanan dengan hebatnya. Kedua tangannya menekan kepala Ethan semakin dalam ke selangkangannya. Pantatnya naik turun tidak kuat menahan rangsangan yang langsung menyentuh titik tersensitif Vani. Rasa ogah & jaim sudah hilang sama sekali. Yang ada hanya kebutuhan untuk dipuaskan.

”ETHAANN…GILLAA… HOUUUHHH.. ENAAKK…. THANN…AHHH” Vani semakin keenakan.

Ethan yang sedang mengobok-obok memek Vani semakin semangat karena memek Vani sudah betul-betul banjir. Peju dan cairan pelumas Vani membanjir di mulut dan jok mobil Ethan. Jempol kiri Ethan menggesek-gesek clitoris Vani, sedang jari-jari Ethan mengocok-ngocok lubang memek dan G-spot Vani dengan cepat. ”Heh, ternyata lo lonte juga ya Van. Mulut lo bilang nggak-nggak mulu. Tapi memek lo banjir kaya gini. Becek banget” kata Ethan dengan semangat sambil tetap ngocok memiaw Vani.

Dalam beberapa kocokan saja Vani sudah mulai merasakan bahwa gelombang orgasme sudah diujung memeknya. Ketika Ethan melihat mata Vani yang mulai merem melek, otot-otot tangan mulai mengejang sambil meremas jok mobil kuat-kuat dan pantat Vani yang mulai mengangkat, Ethan tau bahwa Vani akan sampai klimaksnya. Langsung saja Ethan menghentikan seluruh aktivitasnya di wilayah selangkangan Vani. Vani jelas saja langsung blingsatan ” Ah..ah napa brentii…” sambil tangannya mencoba mengocok memeknya sendiri. Ethan dengan tanggap menangkap tangan Vani, dan berujar ”Lo mau dituntasin?”. Vani merajuk ”Hiyah.. Than.. gue udah konak banggett nih. Pleasee.. kocokin lagi gue ya”. “Kalo gitu lo nungging sekarang” kata Ethan sambil menidurkan kursi sopir agar lebih lapang lagi dan ada pijakan buat Vani nungging. “Napa harus nungging Than” Vani masih merajuk dan tangannya masih berusaha untuk menjamah memeknya sendiri. “Ayo, jangan bantah lagi” kata Ethan sambil mengangkat pantat Vani agar segera menungging.

Vani dengan patuh menaruh kedua tangannya di jok belakang, dengan kedua lutut berada di jok depan yang sudah ditidurkan. Posisi yang sangat merangsang Ethan, demi melihat bongkahan pantat yang bulat, dan memek tembem yang nongol mesum di bawahnya.

Cepat Ethan melepas sabuk dan celana panjangnya, lalu meloloskan celana dalamnya. Langsung saja kontol hitam berurat sepanjang 17cm dan berdiameter 4.5cm itu melompat tegak mengacung, mengangguk-ngangguk siap untuk bertempur. Vani yang mendengar suara-suara melepas celana di belakangnya, menengok dan langsung kaget melihat kontol Ethan sudah teracung dengan gagahnya.

”Buset, gede juga tu kontol, hampir sama dg punya Albert” pikir Vani reflek.
”Eh, lo mo ngontolin gue Than. Enak aja!” teriak Vani dan mencoba untuk membalik badan.

Tapi Ethan lebih cepat lagi langsung menindih punggung Vani, sehingga Vani harus bertelekan lagi dengan kedua sikunya ke jok belakang. Ethan menggerakkan maju mundur pantatnya sehingga kontolnya yang ngaceng, menggesek-gesek bibir memek Vani. ”Sshh…Than…mmhh.. jangan macem-macem lo ya!” ujar Vani masih berupaya galak, tidak mau dikentot oleh Ethan.

Kedua tangan Ethan meraih kedua toked besar Vani yang menggantung dan meremas-remasnya dengan ganas. Sambil menciumi dan menggigit tengkuk Vani, Ethan berkata ”Udah deh, lo ga usah sok ga doyan kontol gitu. Kan lo yang mau dituntasin. Ini gue tuntasin sekalian dengan kontol gue. Lebih mantep timbang cuma jari & lidah hehe”. Remasan & pilinan di kedua toket dan serbuan di tengkuk dan telinga membuat gairah Vani mulai naik lagi. Nafas Vani mulai memburu. Tapi Vani masih mencoba untuk bertahan. Namun, gesekan kontol yang makin intense di bibir memek Vani, betul-betul membuat pertahanan Vani makin goyah. Kepalanya mulai terasa ringan, dan rasa gatal kembali menyerang memeknya dengan hebat.

”Hmffh…shh…awas lo Than kalo sampe hhemm.. sampe berani masukin kontol lo, lo bakal gue..hmff..gue….OUUHHHHH” omongan Vani terputus lenguhannya, karena tiba-tiba Ethan mengarahkan pal-kon nya ke lubang memek Vani yang sudah basah kuyup dan langsung mendorongnya masuk, hingga kepala kontol Ethan yang besar kaya jamur merah amblas dalam memek tembem Vani, sehingga ada peju Vani yang muncrat keluar.

”Hah..hah…shhh…brengs ek lo Ethannn. kontol lo…kontol lo…itu mo masuk ke memek guee…” erang Vani kebingungan, antara gengsi dan birahi. Ethan diam saja, tapi memajukan lagi pantatnya sehingga tongkolnya yang besar masuk sekitar 2 cm lagi, tapi kemudian ditarik perlahan keluar lagi sambil membawa cairan pelumas memek Vani. Sekarang pantat Ethan maju mundur perlahan, mengocok memiaw Vani tapi tidak dalam-dalam, hanya dengan pal-konnya aja. Tapi, hal ini malah membuat Vani blingsatan, keenakan.

”HMFPHH….HEEMMFFHH…SS HH AAHH…Ethannn kontol lo… kontol lo… ngocokin memek guee….hhmmmff”. Rasa gatal yang mengumpul di memek Vani, serasa digaruk-garuk dengan enaknya. Vani yang semula tidak mau dikontolin, jadi kepengen dikocok terus oleh kontol Ethan.

Kata Ethan ”Jadi mau lo gimana? Gue stop neh”. Ethan langsung mencabut kontolnya, dan hanya menggesek-gesekkan di bibir memek Vani. ”Ethaan…pleasee.. kentot gue. Masukin kontol lo ke memek gue. Gue udah ga tahan gatelnya..gue pengen dikenttooott!!!” rengek Vani sambil menggoyang-goyangkua pinggulnya, berusaha memundurkan pantatnya agar kontol Ethan yang dibibir memeknya bisa masuk lagi.

”Hahahaha sudah gue duga, elo emang lonte horny Van. Dari tampang & body elo aja gue tau, kalo elo itu haus tongkol” tawa Ethan penuh kemenangan. ”Ayo buka paha lebih lebar lagi” perintah Ethan. Vani langsung menurutinya, membuka pahanya lebih lebar sehingga memeknya makin terpampang. Ethan tanpa tedeng aling-aling langsung menusukkan kontolnya kuat-kuat ke memek Vani. Dan…BLESHH…seluruh tongkol hitam itu ditelan oleh memek montok Vani. Air peju Vani terciprat keluar akibat tekanan tiba-tiba benda tumpul besar.

”AUUGGHHHH…………!!! ” pekik Vani yang kaget dan kesakitan.

”Hehehe gimana rasa kontol gue Van” kekeh Ethan yang sedang menikmati hangat dan basahnya memek Vani. Vani masih shock dan agak tersengal-sengal berusaha menyesuaikan diri dengan benda besar yang sekarang menyesaki liang memeknya. ”Buseet..tebel banget nih kontol, memek gue penuh banget, keganjel. Mo buka paha lebih lebar lagi udah ga bisa.. mhhmff” erang Vani dalam hati. Karena Vani diam saja, hanya nafasnya saja yang terdengar memburu.

Ethan mulai menarik keluar kontolnya sampai setengahnya, kemudian mendorongnya masuk lagi. Demikian terus menerus dengan ritme yang tepat. ”Hehh..heh…mmm legit banget memek lo Vannn..” desah Ethan keenakan ngentotin memek Vani yang peret tapi basah itu. Hanya butuh tiga kocokan, Vani mulai didera rasa konak dan kenikmatan yang luar biasa. Menjalari seluruh tangan, pundak, tokednya, sampai selangkangan dan seluruh memeknya. Rasa gatal yang sangat digemari oleh Vani seperti mengumpul dan menjadi berkali lipat gatalnya di memeke Vani. Vani sudah tidak mendesah lagi, tapi melenguh dengan hebat. Hilang sudah gengsi, tinggal rasa konak yang dahsyat.

”UUHHHHH…..UHHH……OUUHHGG GG… ENNAAKKNYAA…”.
”OH GODD..memek GUE…memek GUE..”
Vani terbata-bata disela lenguhannya yang memenuhi mobil..
”memek GUE..GATELLL BANGETT….KENTTOOTTT GUE TTHANN…ARGGHH…”

Lenguhan Vani semakin keras dan omongan vulgar keluar semua dari bibir sexy-nya. Kepalan tangan Vani menggegam keras, kepalanya menggeleng semakin cepat, pinggulnya bergerak heboh berusaha menikmati seluruh kontol Ethan. Ethan pun terbawa napsunya yang sudah diubun-ubun. Tangannya meremas-remas toked Vani tanpa henti dengan kasarnya, dan Ethan sudah tidak menciumi pundak & tengkuk Vani, melainkan menggigitnya meninggalkan bekas-bekas merah. Pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang berantakan, cepat lalu perlahan, kemudian cepat lagi, membuat kontol Ethan mengocok memek Vani seperti kesetanan.

Bunyi pejuh Vani yang semakin membanjir menambah nafsu mereka berdua semakin menggila. SLEPP..SLEPP..SLEPP..PLAK..PLA K…suara kontol yang keluar masuk memek dan benturan pantat Vani dengan pangkal kontol Ethan terdengar di sela-sela lenguhan Vani & Ethan. Tak sampai 10 menit Vani merasakan aliran darah seluruh tubuhnya mengalir ke memeknya. Rasa gatal sepertinya meruncing dan semakin memuncak di tempat-tempat yang dikocok oleh tongkol Ethan.

”GUEE KELUAARRRR THANNN……OUUUHHHHHHHHH….A HHHHHHH…” teriak Vani melampiaskan rasa nikmat yang tiba-tiba meledak dari memeknya. Ethan merasakan semburan hangat pada tongkolnya dari dalam memek Vani. Karena Ethan tetap mengocokkan kontolnya, bahkan lebih cepat ketika Vani mencapai klimaksnya, Vani bukan saja dilanda satu orgasme, melainkan beberapa orgasme sekaligus bertubi-tubi.

”OAHHH…OHHH….UUUHH..KOK..K OK.. KLUAR TERUSSS NIIIHHH…” erang Vani dalam klimaksnya yang berkali-kali sekaligus. Hal ini membuat Vani berada dalam kondisi extacy dalam 30 detik lamanya. Badan Vani berkelonjotan, air pejunya muncrat keluar dari dalam memeknya. ”Gilaa..enak bener than… gue sampe keluar berkali-kali” ujar Vani agak bergetar karena Ethan masih dengan nafsunya mompain memek Vani. ”Hehehe demen banget liat lo keluar kaya gitu Van. Betul-betul nafsuin. Tapi ini baru setengah jalan. Gue bikin lo lebih kelonjotan lagi. Gue kentot lo sampai peju lo keluar semua” kata Ethan.

Vani hanya bisa merutuk dalam hati, karena memang dia merasa keenakan dientot Ethan dengan cara sekasar itu. Kemudian Ethan membalik tubuh Vani agar terlentang dan bersandar di jok belakang. Kedua kaki Vani diangkat dan mengangkang lebar sehingga Ethan bisa dengan jelas melihat memek Vani yang chubby itu berleleran dengan peju Vani. ”Than, udahan dulu ya. Gue lemes banget” Vani terengah-engah minta time-out. Tapi bukan Ethan namanya kalo nurutin kemauan si cewek. Bagi Ethan, si cewek harus digenjot terus sampai betul-betul lemes, baru disitu si cewek dapat klimaksnya yang paling hebat. Tidak pedulian rengekan Vani, Ethan langsung mengarahkan kontolnya ke memek Vani yang menganga, dan langsung BLEESHH..!! Dengan mudahnya memek Vani menelan kontol Ethan.

”Hmmffpp..sshiitt..” Vani cuma bisa mengumpat perlahan karena tiba-tiba saja (lagi) kontol Ethan sudah amblas kedalam memeknya. Ethan langsung menggenjot Vani dengan kecepatan tinggi. SLLEPP…SLEEPP… SLLEPPP…SLEPP…. kontol Ethan keluar masuk memek Vani dengan cepat. Vani yang sudah lemes dan kehabisa energy, tiba-tiba mulai merasakan sensasi horny lagi. ”Oh shit..gue kok horny lagi. Lagi-lagi memek gue minta digaruk shhhh..” mengumpat Vani dalam hati. Ethan yang kini berhadapan dengan Vani, bisa melihat perubahan mimik muka Vani yang dari lemes dan ogah-ogahan, menjadi mimik orang keenakan dan horny abis. ”Hehehe gue kata juga apa. Elo memang harus dikentot terus, dasar memek lonte” ujar Ethan sambil terus memompa memek Vani. Kedua tangan Ethan kini bertelekan di toked Vani, dan meremasnya seperti meremas balon.

”AAHH…AHH…AHH..EEMMPPHH… .EKKHH….” erang Vani yang merem melek keenakan dientot. Kali ini tidak sampai 5 menit, seluruh otot tubuh Vani sudah mengejang. Kedua tangan Vani memeluk dan mencakar punggung Ethan kuat-kuat. Lenguhan yang keluar dari mulut Vani semakin keras.

”HOUUUHH….HOOOHH….UUUGGHHH …ENNAAKKKKK..TERUSSS THANN…. GENJOTTT TERUSS…. GUE AMPIIRR NEEHHH……..”.
”Woe, lonte, lo udah mo keluar lagi? Tunggu gue napa” damprat Ethan tapi tetapi malah mempercepat genjotannya. Tanpa dapat dihalangi lagi, memek Vani kembali berkedut-kedut keras dan meremas-remas kontol Ethan yang berada didalamnya. Diiringi pekikan keras, Vani mencapai klimaksnya yang kesekian.

”AAGGGHHHHHHHHHHHHH……….. ………GUE KLUUAARRR ……..”.

Vani merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa itu lagi, dan seluruh tulangnya serasa diloloskan. ”Hhhh…..enak bangetttttt. Lemes banget gue” membatin si Vani. Melihat Vani yang sudah keluar lagi, kali si Ethan agak kesal karena dia sebenernya juga sudah hampir keluar. Tapi kalo si cewek sudah nggak binal lagi, si Ethan merasa kurang puas. ”Sialan, lo Van. Main keluar aja lo. Kalo gitu gue entot diluar aja lo. Di sini sempit banget”.

Maka Ethan langsung membuka pintu mobil, keluar dan menarik Vani keluar. ”Eh..eh.. apa-apaan ni Than. Gue mo dibawa kemana?” tanya Vani lemes. “Kaki gue lemes banget Than, susah banget berdiri” tambah Vani. Ethan langsung bopong Vani keluar dari mobil. Langsung dibawa kedepan mobil. Lantas badan Vani ditenkurapkan di kap depan BMW-nya.

Posisinya betul-betul merangsang. Pinggang ke atas tengkuran di kap mobil, dengan kedua tangan terpentang. Kedua kaki Vani yang lemes menjejak tanah, dibuka lebar-lebar pahanya oleh Ethan. Vani jengah sekali karena kini dia bugil di tempat terbuka. Siapa saja bisa melihat mereka. ”Than, balik dalam lagi aja yuk” ujar Vani sambil berupaya berdiri. Tapi dengan kuatnya tangan Ethan menahan punggung Vani agar tetap tengkurap di kap mobil, sehinggu pantatnya tetap nungging. ”Kan gue udah bilang, gue bakal kentotin lo sampai habis peju lo Van” ujar Ethan yang nafsunya makin berkobar melihat posisi Vani.

Hawa dingin malam malah membuat Ethan merasa energinya kembali lagi. Kedua tangan Ethan meremas bongkahan semok pantat Vani, dan membukanya sehingga memek Vani yang masih berleleran peju ikut membuka. Ethan langsung melesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Vani. ”AHHHH…” pekik Vani tertahan.

Kali ini Ethan betul-betul seperti kesetanan. Tidak ada gigi 1, atau 2, bahkan 3. Langsung ke gigi 4 dan 5. Genjotan maju mundurnya dilakukannya sangat cepat, dan ketika menusukkan tongkolnya dilakukan dengan penuh tenaga. PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK..bunyi pantat Vani yang beradu dengan badan Ethan semakin keras terdengar. ”GILAA…ENAKKK BANGET NIH memekKK…..” Ethan mengerang keenakan.

Tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat, dan kepala Ethan mendongak ke atas, keenakan. Vani yang mula-mula kesakitan, mulai terangsang lagi. Entah karena kocokan Ethan, atau karena sensasi ngentot di areal terbuka seperti ini. Perasaan seperti dilihat orang, membuat memek Vani berkedut-kedut dan gatel lagi. Maka lenguhannya pun kembali terdengar.

”OUUHHH….HHHMMFFPPPPP….OHH H..UOOHH…ENAK..ENAK..ENAAKKK ….” Vani meceracau.

Mendengar lenguhan Vani, Ethan tambah nafsu lagi ”Ooo.. lo demen ya dikentot kasar gini ya Van..Gue tambahin lagi kalo gitu” kata Ethan dengan nafas memburu. Jari-jari Ethan tetap mencengkram bongkahan montok pantat Vani, tapi bedanya kedua jari jempolnya dilesakkan kedalam lubang pantatnya. Dan digerakkan berputar-putar didalamnya. Lubang pantat Vani adalah juga merupakan titik sensitif bagi Vani, sehingga mendatangkan sensasi baru lagi. Apalagi 2 jari jempol yang langsung mengobok-oboknya. Vani makin blingsatan dan makin heboh lenguhannya.

”GILAA LO THAN…UUHHHHHH.. UHH..UHH.. OUUUUUUHHHHHHH…..!

Vani sudah tidak bisa berkata-kata lagi, cuma lenguhan yang kluar dari mulutnya. Ethan tidak sadar bahwa setelah hampir 10 menit mengocok Vani dari belakang, Vani sudah dua kali keluar lagi. Vani yang sudah agak lewat sensasi orgasmenya, mulai menyadari bahwa gerakan Ethan mulai tidak beraturan dan tongkolnya jadi membesar. ”Oh shit, Ethan mo keluar. Pasti dia pengen nyemprot dalam memek gue. Harus gue cegah” pikir Vani panik. Tapi, pikiran tinggal pikiran. Badan Vani tidak mau diajak kerja sama. Mulutnya meneriakkan ”THAAN, JANGAN NGECRET DIDALLAMM….PLEASEE!!!”. Tapi Ethan yang memang sudah berniat menyemprotkan pejunya dalam memek Vani, malah semakin semakin semangat menggenjot dalam-dalam memek Vani. Vani sendiri karena memeknya semakin disesaki oleh kontol Ethan yang membesar karena hendak ngecret, jadi terangsang lagi dan langsung hendak ngecret juga.

Maka, ketika Ethan mencapai klimaksnya, tangannya mencengkram pantat Vani kuat-kuat, dan kontolnya ditekan dalam-dalam dalam memek Vani, Ethan meraung keras. “HMMUUUUAHHHHH….AAHHHH” cairan peju hangat Ethan menyemprot berkali-kali dalam liang memek Vani. Vani pun bereteriak keras ” OUUUAAHHHH….GUE KELUARRRRR….” dan pejunya pun ikut muncrat lagi.

Kedua mahluk lain jenis itu berkelonjotan menikmati setiap tetes peju yang mereka keluarkan. Cairan peju Ethan dan Vani berleleran keluar dari sela-sela jepitan kontol & memek Vani. Banyak sekali cairan yang keluar meleleh dari memek Vani turun ke pahanya.

Ethan puas sekali bisa menembakkan pejunya dalam memek cewek sesexy Vani. Apalagi si Vani ikutan keluar juga. ”Komplet dah” pikir Ethan. Karena lemas, Ethan ikut tengkurap, menindih tubuh Vani di atas kap mobil. kontolnya yang mulai mengecil, masih dibiarkan di dalam memek Vani. Sedang Vani sendiri, masih memejamkan mata menikmati setiap sensasi extasy kenikmatan orgasme yang masih menjalarinya seluruh tubuhnya. Belum pernah ia ngentot sampai keluar lebih dari 4 kali seperti ini. Apalagi sebelumnya dia sempat menolak. Rasa tengsin dan malu mulai menjalar lagi, setelah gelombang kenikmatan orgasmenya memudar.

Ethan yang masih menindihnya berkata ”Hehehe enak kan. Gue demen banget ngentot sama lo Van. Betul-betul binal & liar. Memek lo ga ada matinya, nyemprot peju mulu” kata Ethan seenaknya. Vani cuma bisa diam dan ngedumel dalam hati. ”Udah, bangun lo. Anter gue pulang sekarang. Berlebih banget nih gue bayarnya” ujar Vani ketus. ”Heheh ok..ok gue udah dapet apa yang gue mau. Sekarang gue anter lo pulang” balas Ethan.

Ethan pun bangun dari punggung Vani dan beranjak ke pintu mobil dan mulai memakai pakaian dan celananya. Tapi kemudian dia heran, kok si Vani masih tengkurapan aja di kap mobil. ”Hei, katanya mo pulang. Kok masih tengkurapan aja” tanya Ethan. Vani tidak menjawab, hanya terdenger dengusan nafas saja. Ketika Ethan menghampiri, terlihatlah betapa merahnya muka Vani, karena menahan malu. ”Than, bantuin gue bangun dong. Kaki gue lemes banget. Selangkangan gue rasanya kaya masih ada yang ngganjel” ujar Vani malu-malu. ”Hahaha…KO juga lo ya, cewe paling bahenol di kampus” tawa Ethan membahana. Bertambahlah merahlah muka si Vani. Ketika mau bopong Vani, tiba-tiba pikiran mesum Ethan keluar lagi. Dikeluarkanlah HP-nya yang berkamera. Ethan ambil beberapa shot posisi Vani yang mesum banget itu plus dua close up memek Vani yang berleleran peju.

Karena Vani memejamkan mata untuk mengatur nafas, dia tidak sadar akan tindakan Ethan. Akhirnya Ethan kasihan juga, tubuh Vani dibopong masuk kedalam mobil. Bahkan dibantuin memakai pakaian dan roknya lagi. Tapi ketika Vani meminta panty-nya, Ethan berkata ”Ini buat gue aja. Kenang-kenangan. Lo ga usah pake aja. Memek lo butuh udara segar kelihatannya, habis tadi gue sumpalin pake kontol gue terus”. ”Sial lo Than. Ya udah, ambil dah sana” ketus Vani.

Vani langsung tertidur di kursi mobil. Baru terbagun ketika mobil Ethan sudah sampai di depan pagar kos-kosan Vani. ”Lo bisa jalan ga Van? Kalo masih lemes, gue papah deh masuk ke kamar lo. Itung-itung ucapan terima kasih sudah mau ngentot ama gue malam ini hehe” kata Ethan nakal. Vani tidak bisa menolak tawaran itu, karena memang dia masih merasa lemas dikedua kakinya. Maka Ethan pun memapah Vani berjalan menuju kosnya.

Kamar Vani ada di lantai 2. Kamar-kamar di lantai 1 sudah pada tertutup semua. Tidak ada penghuninya yang nongkrong di luar. Diam-diam Vani merasa lega. Apa kata orang kalo dia pulang dipapah seperti ini. Kalo ga dibilang lagi mabok, bisa dibilang yang enggak-enggak lainnya. Tapi sialnya, ketika dilantai 2 mereka berpapasan dengan si Mirna yang baru dari kamar mandi. Mirna yang selama ini jealous dengan kesexy-an Vani, perhatiin Vani dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Tiba-tiba si Mirna ketawa sinis ”Napa lo Van”. ”Sedikit mabok Mir” jawab Vani sekenanya. ”Mabok apa lo? Mabok peju kelihatannya” kata Mirna nyelekit sambil mandangi paha Vani. Reflek Vani nengok kebawah, betapa kagetnya Vani, karena dia baru sadar tadi belum bersihin leleran peju Ethan dan pejunya sendiri. Lelehan peju mengalir dari dalam memek Vani, sampai lututnya. Cukup banyak, sehingga kelihatan jelas.

PIASS! Muka Vani langsung memerah. Vani langsung berpaling, sedang Mirna terkekeh senang.
”Kalo elo kelihatannya malah kekurangan peju neh. Mana ada cowo yang ikhlas kasi pejunya ke cewe kerempeng kayo elo?” tiba-tiba Ethan nyeletuk pedes. Muka Mirna berubah dari merah, kuning sampai jadi ungu.
”Heh, gue juga punya cowok yang mau ngentot sama gue tanpa gue minta” balas Mirna ketus.
”Nah, berarti kan lo bedua sama, sama-sama butuh kontol & pejunya. Napa saling hina. Urus aja urusan lo masing-masing, dan kenikmatan lo masing-masing. Ga usah saling sindir” tandas Ethan.

Mirna langsung terdiam, dan ngloyor masuk dalam kamarnya. Vani sedikit terkejut, ga nyangka kalo si bejat Ethan bisa ngomong cerdas seperti itu. Betul-betul penyelamatnya. Setelah ditidurkan di ranjangnya Ethan pamit ”Gue cao dulu ya Van. Thanks buat malam ini. Betul-betul sex yang hebat. Baru kali ini gue ngrasain. Kalo lo pengen, call gue aja ya. kontoll gue selalu siap melayani hehe”. ”Enak aja. Ini pertama dan terakhir Than. Kapok gue naik mobil lo” balas Vani pedas.

Ethan cuma tartawa saja, lalu berbalik menutup pintu dan pergi. Sebenarnya Vani merasakan hal yang sama dengan Ethan, betul-betul sex yang luar biasa malam ini. Vani ragu-ragu, bila Ethan ngajak lagi, emang dia bakal langsung nolak. Kok ga yakin ya? Sialan maki Vani pada diri sendiri. Sekarang gue butuh tidur. Dalam sekejap Vani langsung terlelap, tanpa berganti pakaian.

(darwis)

One night stand : in the bus

February 16, 2010

Hari sudah sore ketika aku tiba di terminal Lebak Bulus. Hari itu hari terakhirku menjadi bujangan. 4 hari lagi, aku akan menikahi Mei, kekasihku selama 6 tahun. Hari ini aku pulang ke Jogja, ke tempat kelahiranku untuk bertemu dengan keluarga.

Hidupku sungguh sempurna. Tepat setelah aku lulus dari kuliah, aku mendapatkan kerja yang cukup nyaman di sebuah perusahaan telekomunikasi cukup besar daerah Jakarta Selatan. Tinggal jalan kaki ke Pondok Indah Mall. Mei, calon istriku, kemudian menyusul ke Jakarta dan bekerja di sebuah bank di Bintaro. Perjalanan cinta kami bisa dibilang cukup mulus. Benar-benar sebuah hidup yang sempurna. Aku pun bukan orang yang aneh-aneh. Aku dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius dan sangat teratur. Sepanjang sejarah kehidupanku, bisa dihitung berapa kali aku melanggar aturan atau norma. Kenakalanku paling besar hanyalah minum tomi (topi miring in case you’re wondering) dan sedikit magadon, waktu acara naik gunung di SMA. Tapi itu dulu.

Hampa kadang terasa. Hidup serasa jalan tol, tanpa rintangan, mulus tanpa gejolak, penuh aturan. Kadang aku ingin, sekali-kali memberontak, melanggar aturan. Sekali dalam seumur hidup.

Aku beranjak di tengah kerumunan calo-calo untuk mencari busku. Sumber Alam. Langgananku selama 2 tahun terakhir.

“Mbak, Sumber Alam yang Bisnis belum datang ya?” tanyaku kepada seorang petugas loket. Manis juga. Item manis sih tepatnya.
“Dereng mas, jogja ya? Mangke setengah jam malih …,” Lho, kok bahasa jawa?
“Nuwun nggih mbak.”

Aku duduk menunggu. Asap bus benar-benar menyesakkan. Aku merasakan diriku sesak napas. dari dulu memang aku tidak pernah suka keramaian dan kesesakan Jakarta. Tapi kepepet sih, harus cari upa (“cari nasi”) di Jakarta.

Tak lama kemudian bis itu datang juga. AB 7766 BK. Aku bergegas naik. 14A. dua tempat duduk. Aku sengaja mencari tempat duduk persis di bawah AC. Biar bisa tidur lelap. Aku segera menutup mata. Mengurangi kebisingan akibat lalu lalang orang mencari tempat duduk.

“Mas, mas, maaf …,” ada suara merdu rupanya. Aku membuka mataku.
“Maaf, apa boleh tukeran sama suami saya? Suami saya dapat tiket tempat duduk di seberang. Soalnya beli tiketnya baru aja tadi.”

Aku melihat ibu yang menyapa tadi. Kemudian melihat suaminya yang tersenyum mengangguk kepadaku di seberang kursi kami, menggendong anak yang kira-kira berusia 5 tahun.

“Aduh, bu, maaf, bukannya saya tidak mau, cuman memang saya sengaja memilih tempat di bawah AC ini bu. Maaf ya,” jawabku agak keberatan. Bukannya apa-apa, tapi aku paling tidak suka diganggu dengan masalah orang yang telat membeli tiket seperti pasangan ini.

Ibu itu cemberut. “Ya sudahlah pa, kita ngalah aja. Aku duduk di sampingnya mas ini aja.”

Whatever. aku kembali menutup mataku.

Perjalanan ini sesungguhnya bakal menyenangkan, kalau tidak harus mendengar rengekan anak 5 tahun yang sepertinya tidak pernah diam itu. Belum lagi suara ibu-ibu di sebelahku ini, yang ya ampun, cerewetnya. Aku jengkel banget.

Hujan mulai turun. Airnya menetes membentuk alur di kaca jendelaku. Masih terjebak di Cawang. Sial.

Untung Cikampek tidak macet. Kendaraan mulai menderu, bertambah cepat. Kulihat tebaran warna hijau ditimpali air hujan yang begitu deras di sebelah kiri jalan tol. Suara air hujan menderu keras sekali di atas atap. Orang-orang sudah mulai menampakkan kantuk, dan sepertinya suasana menjadi begitu sepi. Uh, begitu romantis. Kalau saja Mei di sampingku, pasti kepalanya sudah bersandar di bahuku, dan tangannya memeluk lenganku. Kalau saja ….

Aku memandang ke samping. Ibu itu kini sedang sibuk memberikan makan kepada anaknya. Si bapak sedang sibuk dengan PDAnya. Tipikal keluarga Jakarta, berumur di akhir 30an dan baru saja mempunyai anak. Tampaknya keluarga berada. Tapi ngapain naik bis ya? Ah, peduli amat.

Aku kembali menutup mataku. Hari berangsur gelap.

“Pengumuman, bapak ibu. Mohon maaf bahwa ada kerusakan teknis yang menyebabkan lampu tidur tidak dapat menyala,” kata kenek bus itu mengagetkan aku.

“huuuuu,” para penumpang menyahut serentak. Sip. aku paling tidak suka lampu tidur yang remang remang. Aku paling suka gelap. Tidurku pasti nyenyak malam ini. Perjalanan yang panjang menuju Yogyakarta.

————

Aku melirik jamku. Jam 9 malam. Semua orang tampaknya sudah terlelap. Tidak terkecuali ibu dan anak di sampingku. Bus tadi baru saja berhenti di tempat makan. Orang-orang makan malam dan ke belakang. Pasti mereka kekenyangan, dan acara yang paling menyenangkan setelah makan adalah tidur. Hujan masih turun, rintik-rintik. Aku melanjutkan tidurku.

Tidak berapa lama aku terlelap, aku merasakan kaki anak di sebelahku menyentuh kakiku. Sialan. Itu berarti sepatu anak itu kena celanaku. Aku menggeser-geserkan kakiku agar kaki anak itu tidak menekan celanaku. Tentu saja dengan mata terpejam. Tidak disangka, kaki itu balas menggesek. Eee, kurang ajar. Aku segera membuka mataku untuk menegur orang tuanya. Aku terkejut.

Ternyata itu bukan kaki anak kecil. Itu kaki orang dewasa. Kaki ibu itu. Si anak ternyata sudah tidak ada di pangkuan dia. Kemungkinan ada di pangkuan si bapak. Aku segera menutup mataku, pura-pura tidur. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang lain yang akan terjadi. Aku kembali menggesekkan kakiku, menunggu responsnya. Dan ibu itu balas menggesek. Aku sedikit membuka mataku. Kilatan cahaya dari luar bus memberikan sedikit penglihatan mengenai ibu di sampingku. Matanya juga terpejam ternyata.

Tiba-tiba ibu itu menggeser sedikit tubuhnya. Ya, kearahku. Kami berdua menjadi duduk berdempetan. Sisi samping kananku menempel pada bagian kiri tubuhnya. Harum rambut dan parfumnya mulai merasuki hidungku. Aku mulai terangsang.

Aku mencoba untuk lebih berani. Tubuhku aku condongkan sedikit ke depan, dan kemudian aku bergeser ke arahnya. Sehingga posisi saat itu, lenganku tepat di depan dadanya. Tubuh itu diam saja. Lenganku kemudian ku tekan sedikit ke belakang, sehingga aku bisa merasakan sesuatu yang begitu empuk. Ya, payudaranya. Payudaranya besar. Aku bisa merasakan volumenya ketika lenganku menggeseknya. Dan sangat empuk. Sikuku kemudian membuat gerakan melingkar di dadanya. Pelan sekali, sikuku bergerak. Aku tidak mau membuat ia berpikir macam-macam dan kemudian menamparku.

Tubuh itu diam saja. Kulirik matanya. masih terpejam. Tapi aku mendengar dia menghela napas. Jadi ia terangsang. Aku? sangat terangsang. Aku merasakan dadaku berdentum-dentum. Kepalaku berputar-putar karena aliran darah yang sangat cepat ke otakku. Aku bisa mendengar degup jantungku di telingaku sendiri. Aku akan melakukan dosa. 4 hari sebelum pernikahanku. Sepanjang sejarah hidupku. Tapi perasaan itu, nafsu itu, benar-benar membuat aku tidak tahan …..

lenganku terdiam sebentar dari kegiatan menggesek dadanya. Yang lebih mengejutkan lagi, tangan ibu itu mulai mengelus pahaku. ya, pahaku yang dibalut celana panjang kain warna coklat. Tangannya sangat perlahan mengelus kakiku dari mulai pangkal paha sampai atas lutut. Aku gemetar. Sangat gemetar. Aku tidak tahan ……

Sekarang posisiku berubah. Aku membuka tas dan mengambil sweater. Aku sudah memakai jaket tentu saja, karena aku tidur di bawah AC. tapi sweater tadi untuk maksud lain. Sweater tadi kemudian aku tutupkan di atas dadaku, dan kemudian tanganku kulipat. Apabila dililhat dari jauh, seperti orang yang tangannya kedinginan karena AC. Tapi bukan itu alasannya. Aku beringsut lagi mendekati tubuhnya. Tangan ibu itu masih mengelus pahaku. Kami berpandangan sebentar. Lucunya, setelah itu kami berdua kembali bersender pada tempat duduk kami dengan mata terpejam. Tanganku mulai beraksi. Tangan kiriku yang tadi dilipat mulai bergerak ke arah dadanya. Sangat pelan. Tangan itu mulai menyusuri bukit indah yang tertutup kain, mulai dari tepi. Aku sangat menghayati momen itu. Pelan-pelan kuelus bukit indah itu, dari tepi ke kanan. Sedikit ku remas, tapi tidak banyak. Aku tidak mau menyakiti bukit indah itu. Sungguh, ibu itu mempunyai dada yang sempurna. Besar, dan sangat kenyal. Aku merasakan bahwa dia memakai BH yang berenda. Aku membayangkan bentuknya. Mungkin warnanya hitam. Atau merah. Dan rendanya sedikit tembus pandang. Mungkin cupnya cuma setengah. Mungkin cupnya tidak bisa menahan volume payudara sebesar itu. Oooh, aku semakin terangsang.

Ibu itu mengenakan baju jeans terusan dengan bawahan rok dengan kancing dari dada sampai di lutut. Kain jeansnya untungnya kain yang lemas, sehingga aku bisa merasakan tekstur renda BHnya. Sangat merangsang. Aku melirik sedikit ke arah dia. Dia masih terus mengelus pahaku. Aku tidak sabar. Tangan kananku yang nganggur kemudian memimpin tangannya ke penisku yang sudah tegang. Aha, dia mengerti. Kemudian dia berlanjut mengelus kontur penisku dengan jari telunjuk dan jempolnya yang tercetak jelas di dalam celanaku. OOoh, mantab.

“Besar …..,” desisnya. Matanya tetap terpejam. Mataku juga.

Aku melanjutkan kenakalanku. Kali ini, dua kancing tepat di depan dada besar itu aku buka. Dengan susah payah. Pernah membayangkan membuka kancing-kancing besar pada kain jeans? Yup, susah sekali. Akhirnya dia turun tangan. Tangannya kanannya membantuku membukanya.

Tanganku kemudian masuk pelahan ke dalam bajunya, untuk merasakan keindahan payudara di baliknya. Bayanganku memang menjadi kenyataan. BH setengah cukup yang terlalu kecil, dengan renda yang sangat merangsang. Aku suka sekali renda, terutama apabila renda itu ada di tempat yang tepat. BH dan celana dalam. Aku kembali mengelus dadanya. SEkarang aku sedikit meremasnya. Sensasinya benar-benar luar biasa. Dia mendesis. Kepalaku berdentum-dentum. Jantungku berdebar sangat keras.

“Buka,” bisikku lirih. Mungkin tidak terdengar. Tapi aku tidak mau mengambil resiko terdengar. Apalagi oleh suaminya yang hanya duduk 50 cm di seberangnya. Ternyata dia mendengar. Dia berhenti mengelus penisku, membungkukkan sedikit badannya, dan kemudian berusaha melepas kait BHnya di belakang. Agak lama dia membukanya. Selagi dia membuka BHnya, pelahan aku menarik ritsleting celanaku ke bawah. Pelaaan sekali. Setelah itu, aku memelorotkan celana dalamku. Tidak melorot sih sebenarnya. Cuman mengaitkan kolornya ke bagian bawah penisku. Tidak nyaman memang. Tapi sekarang penisku bisa bebas mengacung menunjuk langit. Menanti elusannya.

Sepertinya kait BHnya sudah lepas. Tangan dia sepertinya cerdas, kembali mencari sasarannya yang tadi lepas. Dan dia tidak kaget, kali ini penisku sudah tegak menjulang, keluar dari celana. Kemudian dia seperti terkejut dan kemudian menarik tangannya dan kemudian melipatnya di depan dada. Pura-pura tidur, sambil menutupi dua kancing dadanya yang sudah terbuka lebar.

Sial. ada orang mau ke toilet. dia berjalan melangkah dari depan. Untung aku ada sweater yang bisa menutupi si “burung” nakal. Aah, seorang wanita. Bakalan lama nih. Jantungku berdegup keras.

Lama sekali orang itu di toilet. Aku mulai tidak sabar. Penisku sudah mulai menyusut. ya iyalah, baru juga pemanasan. Kepotong deh. ….

Akhirnya wanita itu lewat juga di di samping kami. Uuuh, lega. Tangan ibu itu mulai duluan, menyusup di bawah sweater, mencari “adikku” yang mulai tegang lagi. hmmm. Tangannya sungguh mulus, dan sentuhannya, benar-benar nikmat. Dia tahu betul cara merangsang penis dengan sentuhan. Sentuhan itu ringan, seperti melayang. Dia tidak meremas, atau menggosok terlalu keras. semuanya serba ringan dan melayang. Dan itu membuatku melayang.

Tanganku juga tidak mau kalah, seperti mempunyai mata sendiri yang bergerak mencari sasarannya. Si bukit kembar yang kenyal. Dan tangan itu menemukan sasarannya. Dada itu benar-benar lembut. Mulus tak bercela. Aku meresapi setiap jengkal usapan tanganku di dadanya. Meremas pangkal dadanya. Memilin putingnya. Putingnya. Putingnya runcing, ukurannya luar biasa, sepanjang buku jari telunjukku. Dan keras. Sangat keras. Sperti penis kecil. Aku memilinnya. lagi. Dan dia mendesis.

“jangan keras-keras,” bisiknya sangat lirih. AKu mengerti. Aku meremas, memilin, mengelus tanpa henti. Benar-benar nikmat.

Tapi tetap ada yang kurang. Kami berdua tidak terpuaskan. Penisku tetap tegang luar biasa. Dan rasanya mulai sakit sekarang. berdenyut-denyut ga karuan. Tangannya masih tetap mengelus penisku, tapi sungguh, tangan itu tidak mampu membuat aku nikmat terus-menerus. Dia mengerti hal itu.

“Ke bawah ….,” bisiknya sambil mengarahkan tanganku yang tadi ada di dadanya ke arah bawah. Aku langsung tanggap. Tanganku berubah posisi, mengelus pahanya yang tertutup kain jeans. Tidak berasa memang. Tapi dari gerakan tubuhnya aku tahu, dia sangat terangsang. Dia berulangkali menggerakkan tubuhnya, seolah menikmati betul elusan tanganku di pahanya. Pelan-pelan aku naik sedikit ke atas, tepat di gundukan di bawah pusar itu. Dia menahan tanganku.

“Jangan … “

Aku nekat.

“Jangan …” Ok. Aku turuti. Aku kembali mengelus pahanya. Kali ini tanganku lebih berani. Kupegang ujung roknya dan kunaikkan sedikit ke atas. Dia tidak menolak. Aku kembali mengelus pahanya. Hhhm, sungguh mulus. Benar-benar mulus. Aku merasakan bulu-bulu halus di telapak tanganku. Dia terengah-engah. Tangannya sejak dari tadi berhenti mengelus penisku. Tak apa. lebih baik begitu daripada menyiksa “adikku” yang sudah tegang luar biasa.

Aku tiba-tiba menghentikan elusanku dan menarik tanganku. Kemudian memandang ke arah dia. Matanya bertanya. Menanyakan mengapa aku menghentikan itu.

“Aku mau itu,” bisikku mendekat di telinganya, sambil menunjuk ke arah gundukan tempat vaginanya berada.

Dia menggeleng. Aku kemudian berpura-pura tidur. Memejamkan mata.

Lama sekali. Mungkin 5 menit, mungkin kurang dari itu. Tangannya menarik tanganku dan mengarahkannya ke tempat yang aku inginkan. Hehehehe, aku menang. Dia tidak tahan. Tanganku sudah berada tepat di atas gundukan itu. Dia membuka kancing bajunya tepat di area itu. Tanganku bergerak mencari celana dalamnya. Dapat.

Jelas, ini sutra. Atau Satin? aku tidak peduli. bahan kain celana dalamnya halus sekali. aku merabanya. memastikan. Terus ke bawah, dan kutemukan apa yang kucari. Sesuatu itu sudah basah. Pasti basah, karena aku merasakannya dengan tanganku. Tanganku berhenti di situ. Merasakan bentuknya. Sedikit bergelombang. Aku merasakan lipatan vertikal. Bulu-bulu halus di sekitarnya. Cukup tebal. dan sangat basah. Aku tersenyum kembali. Penuh kemenangan. Jari tengahku kemudian mengelus lipatan basah itu. Pelan, tapi sedikit menekan. Dia mendesis. Oh tidak. Dia melenguh. Tetap memejamkan matanya.

Aku makin berani. Celana itu aku pegang elastisnya. dan aku turunkan ke bawah. Dia memegang tanganku. Aku tetap berkeras. Dia menyerah.

Kembali jari tengahku mencari tempat tadi. Jari itu mencari sumber kenikmatan seorang wanita. Sebuah penis kecil yang sudah amat basah. Aku menggoyangnya pelan dengan jariku. Kemudian mengelusnya. Kemudian menekannya. Tubuhnya menegang.

Aku kembali mengelusnya. Pelan dan sedikit menekan. Pelan dan sedikit menekan. Tempat itu terasa lebih basah daripada sebelumnya. Jariku masuk lebih ke dalam. Merasakan lipatan lain di dalam yang sangat basah. Benar-benar basah. Rongga itu seperti tidak berujung. Kemudian jariku kugerakkan. ke dalam dan ke luar. Berulangkali.

Aha, aku merasakan jariku seperti tersedot ke dalam. Ada sesuatu yang mencengkeram. Dan rasa itu kembali membuatku terangsang. Aku terus menggerakkan jariku. Semakin cepat. Tiba-tiba jariku seperti ditumpahi cairan hangat. kental. Dia terengah-engah. Tubuhnya menegang. Kali ini cukup lama. Aku terus menggerakkan jariku. Dia kemudian menahan tanganku. Aku menurut. Aku memandangnya.

Matanya terpejam. Seperti menghayati sesuatu. Mungkin orgasme. Dadanya naik turun, terengah-engah seperti habis lari kencang. Kancing masih terbuka.

“Apa kau ..?”
“Ya … . Luar biasa …,” bisiknya, memandang kepadaku. Oooh, senyumnya manis sekali. Matanya yang bulat besar memantulkan kilatan cahaya neon di luar bus.

Dia memandang ke bawah tubuhku.
“Kasihan ya,…” senyumnya menunjuk ke “adikku”. Ya iyalah. “adikku” tidur nyenyak sementara dia sendiri terpuaskan. Paling tidak dengan jariku.

“ga papa …”

(rakasiwi)

My Sex Diary-Meluapnya Kerinduan Kekasih

February 16, 2010

Siang itu aku bertandang ke rumah Dinda yang cukup asri, Dia yang mengundangku ke sini. Kebetulan memang kami sudah beberapa hari tak bertemu muka. Ku parkir motor Tiger kesayanganku di depan garasinya. Di depan pintu Dinda sudah berdiri menungguku dengan senyumannya yang aku yakin mampu meruntuhkan hati lelaki manapun. Yahh..setidaknya itu berhasil untukku

“Hallo Mas Agus sayang..” sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku.
“Hallo juga.. Sayang,” balasku pendek.
“Sudah lama yah nunggunya,” lanjutku lagi.

Antara aku dan Dinda memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah dinda nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti malam atau malah besoknya.

Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata.
“Mas kangen banget nih sayang,” bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya.
“aku juga kangen Masku sayang..” jawabnya pelan.

Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu Dinda dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah.

“Kamu cantik sekali siang ini sayang..” kataku lembut.
Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Dinda tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya.

Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 34b itu.

Jemari tanganku langsung mengelus tepian toketnya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual.

“Ohh.. Mas sayang..” desahnya lembut.
Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri toketnya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung toketnya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali.

“Ohh.. Mas sayang.. Enak sekali.”
Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata.

“Sayang.. toket kamu sungguh indah bentukya,” bisikku lirih di telinganya.
dinda hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak Dinda berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya.

Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy dinda dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. dinda masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh dinda kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut.

Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh dinda kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau dinda sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh dinda. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy.

Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih.

“Oh.. Mas sayang..” desahnya parau.
Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan.

“Ssshh..” desisnya lirih.
Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar dinda mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu memeknya yang menyerupai garis segitiga.

Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar memeknya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang memeknya. Tubuh dinda mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas memek miliknya oleh ujung lidahku.

“Ohh.. Mas sayang” jeritnya tertahan.
“Aku nggak kuat Mas..” tambahnya lirih.
Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh dinda dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap kontolku yang sudah berdiri tegang sekali.
Dengan gerakan lincah bibir dinda langsung mengulum kepala kontolku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala kontolku yang mengkilat.

Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang kontolku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku.

“Ohh.. Sayang” desahku pelan.
Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat dinda menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai.

Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang kontolku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir memeknya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah memeknya.

“Oh.. Mas sayang.. Please.. Aku enggak kuat” jeritnya lirih.
Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua toketnya bergantian dan berakhir di puting toket yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar.

“Ohh.. Mas sayang.. Sekarang yah” pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu.
Perlahan aku mengarahkan batang kontolku tepat di belahan memeknya dan mendorongnya lembut.
“Slepp..” irama yang di timbulkan ketika kontolku sudah menyeruak bibir memeknya.
Kembali bibir dinda mengeluarkan desahan sexynya.
“Owhhhhh.. Mmm..” gumamnya lirih.

Setengah dari batang kontolku sudah masuk ke dalam memeknya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang kontolku ke rongga memeknya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung kontolku menyentuh itilnya. Mulut dinda menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya.

“Mmm.. Mmm” gumamnya.
Sambil menahan nikmat, tangan dinda menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya dinda akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih.

“Ohh.. Mas sayangg..” jeritnya bergetar.
Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga memeknya menjepit erat batang kontolku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang dinda kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata.

“Thanks yah.. Mas sayang”ucapnya mesra.
Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan.
“Aku bahagia.. kalau sayang bisa menikmati semua ini” ucapku kemudian.
Hanya beberapa saat setelah dinda mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan memeknya yang menggairahkan.

Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang kontolku dan mengarahkannya tepat di bibir memeknya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap kontolku menyeruak sedikit demi sedikit membelah memeknya lembut.

“Slepp..” masuklah setengah batang kontolku ke dalam rongga memeknya.
“Sss..” dinda mendesah menerima desakan kontolku.
Tanganku perlahan meremas toketnya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga memeknya lebih dalam.

Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang kontolku dapat menyentuh itilnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua toket berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya.

“Ohh.. Mas sayang” desahnya.
Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan kontolku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan memeknya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua toketnya lembut.

“Sayang…..ahhh….ohhh….sa yang……terus sayang…….Owhhhh………” Dinda terus mendesah dan meracau. Sementara gerakan pinggulku makin cepat. Kedua tanganku kini mencengkeram pinggangnya yang ramping. Dinda kini hanya bertumpu pada tangan kirinya, karena tangan kanannya sibuk meremasi dan memelintir toketnya sendiri. Tak lama kemudian kurasakan lagi denyutan dan jepitan pada memeknya menandakan dia menjelang orgasme nya

“owh..sayang..sayangg…owh… akh..akh..akhhhhhhhhhh….!!!! !!!!!!!!!!!!!!” jeritan panjangnya menandai orgasme yang dialaminya. Tubuhnya melengkung dan tangannya meremas toketnya. Kuhujamkan kontolku dalam-dalam sambil meremas pinggangnya.

Setelah orgasmenya mereda, kuangkat tubuhnya yang sudah basah oleh keringat lalu kubaringkan ke ranjangnya yang rapi.
Segera kulumat bibirnya dan kusedot lidahnya, tanganku meremas toketnya dengan liar. Dinda membalas lumatanku dan kemudian mendorong tubuhku hingga terlentang. Diraihnya kontolku lalu diarahkannya ke memeknya yang sudah basah oleh cairan cintanya.

“Owhhh…….” lengguhnya saat kontolku menghujam dalam ke memeknya. Dinda segera menggerakkan tubuhnya naik turun dengan tangannya meremas kakiku. Toketnya bergoyang indah mengikuti gerakan tubuhnya. Sengaja tak kusentuh toket itu karena aku suka melihatnya brgoyang. Dinda rupanya tahu karena ia lalu memintaku meremasnya

“sayang, remas toket adek sayang. Ayo sayang.” dibungkukkannya badannya . Dan segera kuangsurkan bibirku untuk mengulumnya. Kumainkan lidahku di putting sebelah kanan, sementara tangaku meremas dan memilin putting yang sebelah kiri. Pinggulku tak tinggal diam. Ikut bergerak mengikuti gerakan pingul dinda yang makin lama makin cepat.

“iya sayang…terus sayang..iyah…isep toket adek sayang…iyahh..iyahh….Akhhh hhh…” Orgasme kembali melandanya. Tubuhnya mengejang beberapa saat sebelum akhirnya ambruk menindihku. Segera kubalikkan tubuhnya dan kulebarkan kakinya. Kedua tangannya berpeganyan pada kisi-kisi atas ranjang, kontolku langsung kutusukkan ke memeknya yang sudah banjir. Segera kugerakkan dengan tempo tinggi.

“Owh…lagi sayan…adek pengen lagi sayang…..Owh….”
“Sayang pengen lagi…pengen lagi.” tanyaku sambil terus menggenjot dan meremasi toket dinda

“iya sayang….adek pengen lagi, kita keluar bareng yah sayang.”Aku makin bersemangat menggenjot memeknya. Kepala dinda sudah bergerak kekiri dan kana menahan birahinya yang seolah tak berhenti melandanya. Kubungkukkan badan untuk mencium bibirnya yang disambut jilatan dan kuluman lidahnya yang buas.

“Sayang aku mau keluar nih,” bisiku lirih.
“Ohh.. Mas sayang aku juga mau” sahutnya pelan.”Keluarin di dalam sayang. ya…adek sedang ngga subur.”
“Adek mau dikeluarin didalam.”
“Iya sayang.adek minta sayang. Memek adek pengen disemprot. …ayo sayang…adek gak tahan sayang.”

Aku mempercepat gerakanku memompa memeknya tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua toketnya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua toketnya erat dan memajukan kontolku lebih dalam.

“Owh…… Ohh.. Sayang,” Dinda menjerit dan tubuhnya melengkung ke atas.
Kudorong kontolku dalam-dalam ke memeknya yang basah, hangat dan berdenyut nikmat. Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga memeknya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya.

Badanku ambruk lemas menindihnya yang disambut belaian di punggungku. Kusergap bibir dinda yang sexy dan kulumat mesra. Dinda menyambutnya dengan memainkan lidahnya di rongga mulutku. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya kontolku mengecil dengan sendirinya di dalam memeknya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan.

(from : Saung_kampret )

nikmat cewe sakau

February 16, 2010

Hai nama ku nana aku mau menceritakan pengalamanku tentang kehidupan seksku yang sedikit menyimpang

Aku nana,ce, ciri –ciri ku 165/50 34b kebetulan aku kuliah di salah satu PTN di J,
Aku memliki kelainan seksual yaitu aku menjadi horny atau aku bisa mancapai kepuasan apabila aku melakukan aktifitas seksualku di lihat banyak orang atau memamerkan tubuh molek indah ku ini.

ceritaku dimulai sewaktu aku dan 4 kawan berlibur ke villa di tepi pantai. temanku itu 4 cowok yang bernama alfred,Rey,Rico dan daved. Dan aku cewek sendiri.

Singkat cerita kita berangkat ke vlla itu dengan mobil daved

Sesampai di villa itu kita disambut oleh penjaga villa daved lalu penjaga pun pergi dan meninggal kan kita berlima di villa tersebut.

Setelah kita keliling melihat indahnya pemmandangan pantai dan melihat sekeliling villa, disana terdapat kolamrenang dan lapangan tennis Sedangkan tembok villa tersebut cukup tinggi dan rapat sehingga orang luar tidak dapat melihat keadaan didalam villa ini

Kita berlima masuk kedalam villa dan duduk bersama di ruang tamu sambil ,mengobrol dan nonton acara tv.

Selagi kita ngobrol Rey memberi saran gimana kalo kita tidak hanya ngobrol dan nonton kita main poker aja,akhirnya kamipun menyetujui.

Permainan kita buka dengan tidak memakai taruhan .Selang beberapa game daved membuka pembicaraan,
“ gimana kalau putaran berikutnya kita pake taruhan?
“lalu taruhanya apa?” sahut ku
“Orang yang memiliki kartu paling kecil harus menjadi budak dan harus menuruti semua permintaan dari orang yang memiliki kartu tertinggi dari dia.” Kata daved memberikan syarat permainan.Akhirnya semua menyetujuinya.

Setelah kartu di bagi dan ternyata aku yang memiliki kartu yang paling kecil yaitu hanya punya pair kecil, sedang kan mereka berempat daved punya there of kind alfred pair as Rico pair 10 dan Rey memiliki double pair king.

Sesuai kesepakan akhirnya mereka berempat menjadi bos dan aku sendiri menjadi bawahan . Tugas pertama yang aku terima akhirnya mereka menyuruh aku untuk melepas bajuku sampai bugil dan selama berada di villa aku harus telanjang tanpa sehelai benangpun yang menempel di tubuh mulusku ini..
Setelah itu daved dan Rey mengangkat Tubuhku dan meletakkannya di atas meja makan.
di meja makan itu aku diikat terlentang seperti huruf X . kemudian alfred dan Rico mengambil pisau cukur dan mereka pun bergantian mencukur bulu halus kemaluan ku.
setelah licin dan bersih benar mereka ,mulailah menikmati rasa legit kemaluanku dengan menghisap dan menjilatinya penuh nafsu.
Kemudian ada yang meremas susuku dan minta di emut penisnya sama aku .
Tak berapa lama kemudian aku sendiri mengalami orgasme dan diikuti sperma merekapun saling muncrat tumpah di tubuhku.
kemudian mereka berempat menyuruh aku untuk menceburkan diri di kolam renang. Selagi aku berenang bugil,mereka hanya melihatku dari atas kolam dan daved merekam semua gerak gerik dan kemolekanku itu menggunakan handycamnya

Setelah aku selesai berenang ,kami berlima menikmati makan di ruang makan kembali.Mereka berempat telah rapi berpakaian
bedanya hanya aku sendiri yang bugil tanpa selembar kainpun yang menutupi
Dan saat itu aku duduk berhadapan dengan mereka posikaki kiri dan kanan ku di ikat dengan kaki kursi yang mengakibatkan posisi duduk ku terbuka mengangkang. Memperlihatkan kemaluanku yang gundul kemerahan

Setelah selesai makan Rey memberikan saran
”gimana kalau malam ini kita pergi ke diskotik,”
Setelah Rey berkata itu semua pada setuju. Daved menyuruhkuku untuk hanya memakai baju tang top dan rok mini tanpa boleh mengenakan daleman , ini karena aku masih kalah taruhan dan masa hukuman ku baru selesai besok pagi sesuai kesepakatan.
Ku turuti saja kemauan mereka. Kamipun bergegas berjalan menuju mobil daved yang membawa kami ke sini.
Namun sebelumnya kemaluanku disumbat oleh Rey dengan mainan sex berbentuk telur 2 buah berwarna pink dimana posisi telur yang satu berada di dalam liang vaginaku terhubung dengan seuntai tali tebal dengan telur satunya yang berada menggantung di luar tubuhku menempel di antara bibir kemaluan luarku. Anehnya kedua telur mainan itu kadang mendengung bergetar sendiri saat kuberjalan beberapa langkah
uhh terasa gatal dan ngilu rasanya di kemaluan ini.terasa pengen pipis Ternyata riko memegang remote control dari mainan ini dan diam-diam menekannya berulang beberapa kali. Och akibatnya aku horny sekali dan sulit melangkahkan kakiku. Och ngilu campur gatal sekali sehingga terkadang aku harus terbungkuk sejenak sembari merapatkan pahaku sambil merasakan dinginnya udara malam di kemaluan karena tak mengenakan apa2 di balik rok pendek miniku
Ouh orgasme lagi, lendir putih dari kemaluanku mengalir keluar ada yang langsung menetes ke bawah, sebagian meleleh mengalir turun lewat sela pangkal pahaku terus ke bawah sampai tumit kiriku

akhirnya kami sampai di diskotik dekat villa nya daved.Disana kita menyewa satu ruangan vip, setelah masuk bilik, kita minum sambil mendengarkan dentungan musik diskotik, mereka kembali lagi mengerjai aku meraba tubuh ku dan menelanjangi aku di ruangan itu ,mengobok-obok selangkanganku , menyeruput menikmati lendir birahiku
Karena aku sendiri sudah semakin fly terpengaruh oleh alkohol , maka akupun mengikuti saja irama mereka terkadang .dalam buaian mereka aku ikutan minum seteguk bercampur dengan sperma mereka yang secara bergantian mulai tumpah dan diteteskannya ke dalam gelas minumanku.

Setelah seluruhnya merasakan kepuasan dan memang tempat itu sudah mau tutup kitapun bergegas kembali ke villa.
Nah, saat berada di dalam mobil daved, kembali mereka lagi2 membugili aku sambil mereka mengusap usap memekku dengan jari atau memasukkan ujung botol minuman ke dalamnya, memutar-mutarkan botol ataupun mengangsurkan ke dalam, uch mentok sampai pintu rahimku
gilanya lagi setelah sampai di villa mereka menggendongku kemudian mengikat aku berdiri bugil di sebuah tiang menyerupai pohon di halaman villa.
Seperti layaknya fotomodel telanjang. berbagai pose dengan simpul ikatan dilakukan mereka terhadapku. Pertama 2 tanganku diikat ke belakang dan selembar kain tipis menutupi bagian paha dan perutku, kemudian tanganku diikat seperti salib, dan terakhir 2 tanganku tergantung diatas tiang diatas kepalaku. Mereka mengabadikannya dengan kamera digital dan handycam.

Selama aku diikat di halaman itu mereka menusuk anus dan vagina ku dengan kontol atau botol minuman, kemudian diselesaikan dengan menyetubuhiku dalam keadaan terikat ini bergantian di vaginaku bahkan kadang kedua lubang bawahku kerisi penis-penis mereka

akhirnya acara mengarapku habis-habisan di halaman villa ini selesai sekitar jam 4pagi
Merekapun ter tidur setelah aku tergolek lemas terlentang di meja ruang tamu sambil ke dua tangan dan kakiku diikat pada ke empat sudut meja, seperti di altar persembahan dan sebagai kenang-kenangan dari mereka berempat, dengan sedikit memaksa merekapun memasangkan anting di puting susu dan di bibir dalam kemaluan ku, sungguh betapa aku melenguh berteriak sekerasnya karena pedih menitikkan airmata bahkan melolong meronta saat ke dua anting itu mereka kenakan padaku semalam
setelahnya aku kecapain menangis dan mereka juga sudah mengantuk,akhirnya kita semua tertidur,Cuma aku aja yang tertidur masih di tempat yang sama terikat tanpa busana, memamerkan anting baruku yang menempel di ujung ke dua puting dan tepi kemaluanku, meninggalkan bercak leleran darah bekas pemasangannya.
Dan besok paginya kitapun kembali ke peradaban

Semenjak kejadian itu aku menjadi makin deket sama mereka, tetapi aku paling deket sama Rey,kita sering jalan bareng seperti orang pacaran padahal kita sendiri tidak pacaran hanya teman bisa rasanya.

Karena aku gaul dengan mereka akhirnya aku mulai mengenal dugem dan obat2 terlarang, dan sekarang ini aku menjadi kecanduan ,apa bila gak kutemukan drug atau kemaluan lelaki, kepala ku rasanya sakit dan pusing.

Pernah suatu hari aku sangat sakau berat dan kebetulan aku lagi bokek
Karena aku udah sakau dan bingung akhirnya aku telpon Rey untuk pinjam duit agar bisa beli obat tersebut.

Tetapi Rey bilang gak usah pinjem . Dia punya barangnya dan Rey bisa berikan aku gratis, asal syaratnya untuk malam ini aku harus menuruti semua permintaannya .
Gak ada pilihan lain akhirnya aku setujui semua syaratnya,
Saat di telp aku sendiri sedang menggigil hebat dan keringat dingin mengucur deras di tubuhku ,sakau berat nich
pertama syarat yang di ajukan Rey tidak sulit .Aku hanya perlu pakai rok mini dan tank top tapi gak boleh pake daleman sama seperti kejadian di villa daved tempohari.
Karena aku udah pernah ,jadinya aku cuek aja.sesampainya di rumah Rey, dari luar aku liat rame sekali. Sepertinya pada saat aku datang di rumahnya ada pesta kecil kecilan.

Ternyata di dalam rumah itu ada 3 cewek dan cowok sekitar 7 orang dan di tengah ruang tamu terdapat tiang untuk menggantung terdiri dari 3 tiang,pas disaat aku masuk Rey dengan sebuah mic dia bilang ini lah bintang tamu kita,disaat Rey berkata demikian akupun bingung.lalu mendekati Rey dan menanyakan barang tersebut, lalu dia bila ok aku akan kasih tapi ada syarat lagi
Syaratnya ,Rey?”tanyaku sedikit memohon.
sekarang aku ingin kamu dengan 3 wanita seusiaku itu untuk bugil di tengah ruangan ini, lalu Rey bilang kamu mau barangnya gak?
Karena aku memerlukan drug itu,aku pun melakukannya aku mulai melepaskan bajuku satu persatu sampai bugil, berbarengan dengan 3 wanita itu. kemudian tangan ku diikat keatas dan digantung di tiang yang telah di sediakan .kedua kaki ku juga diikat dengan posisi di buka selebar lebarnya agar para tamu dapat melihat keindahan memekku yang bertindik itu walaupun sedikit tertutupi bulu kemaluanku yang tumbuh sedikit lebat di sana, kemudian setelah itu mulut ku diberangus dengan tali kekang dari kulit mirip berangus kuda,hal ini juga dilakukan sama kepada 3 wanita itu Cuma bedanya salah satu dari ketiga wanita diikat terlentang diatas meja makan.

Setelah kita semua para cewek diiket para prianya mulai meremas buah dada dan mengoral vagina kita bergantian kadang bebarengan
ada juga yang mengabadikan semua ini dengan kamera dan handycam. Setelah mereka puas meraba raba dan merangsang kita ,merekapun mulai menyetubuhi kita ada yang lewat vagina ada yang langsung main di anus dan ada juga yang mainnya keroyokan.

Setelah puas menyetubuhi dan menumpahkan sperma mereka di tubuh bugil kami para cewe, maka salah satu wanita yang di gantung itu di turunnkan lalu di taruh di salah satu meja, semula hanya terdengar lenguhan tertahan, tiba-tiba terdengar erangan menyayat dan lolongan keras, ternyata wanita itu pada ke dua ujung puting dan di klitorisnya di pasang sebuah anting, lalu di lehernya di ikatkan seuntai rantai anjing,
Rey kemudian melepaskan ikatan menyeret wanita itu kehalaman samping rumah dan di sana cewek itu lagi2 di gantung berdiri seperti huruf X dan pada anting di klitorisnya di beri pemberat timah dan anting yang di puting di kasih rantai kecil lalu rantai itu ditarik sehingga ke dua putingnya makin mancung dan tegang ke depan,dan rantai juga diikatkan ke salah satu tiang di taman.

wanitanya keliatan kesakitan, berteriak sebentar, darah masih mengalir di ujung puting dan ujung clitnya, sembari terkencing-kencing menahan derita, tetapi tampaknya dia menyukai perlakuan seperti itu. Kemudian wanita itupun menjadi bulan-bulanan pria di sana, di cambuk dan di beri tetesan lilin oleh cowok2 yang lain.
Akhirnya wanita itu gak kuat atas siksaan yang dia terima dan akhirnya jatuh pingsan.

Karena dia pingsan maka mulailah aku dan seorang cewe lagi di gilir dan di siksa, di ikat dan di cambuk .
aku sendiri pada bagian anus dimasukkan dildo panjang seolah ekor menjuntai dari anusku dan memekku di jejalkan vibrator mendengung dan berputar,yang pada akhirnya semua cewek kebagian penyiksaan. termasuk aku akhirnya ikut jatuh pingsan Karena kecapean tersiksa dan disetubuhi bertubi-tubi, bergantian dengan kasar oleh semua laki-laki yang hadir di sana
Setelah tersadar aku melihat 3 cewek itu masih diikat di tiang dengan kondisi bugil dan begitu pula dengan aku, kudapati aku kehilangan rambut kemaluanku. memekku tampak licin dan sedikit bengkak diujung clitku.entah kapan mereka mencukurnya saat ku pingsan tadi
Setelah para cewek tersadar semua, kemudian Rey masuk kedalam ruangan tersebut dan berkata di hadapan kami bahwa kita mulai saat ini dan selamanya harus menjadi wanita simpanan Rey atau budak sexnya

Kalau kita tidak mau menuruti permintaanya di akan menyebarkan semua foto dan video yang merekam segala kejadian tadi malam ke orang-orang yang kita kenal. Akhirnya kita harus menerima keadaan ini.

Saat itu masih gelap sekitar jam 1 dinihari akhirnya Rey dan beberapa temannya mengantar kita pulang. Namun Rey tidak memberikan baju kita, jadi kita di anter pulang dengan keadaan bugil, pas didalam mobil Rey dan kawan2nya hanya memberikan isolasi lakband hitam menempel dari punggung kedepan sampai bagian puting dan vagina kita. Sehingga masing masing cewe serasa memakai bentuk Bra dan CD dari isolasi

akhirnya aku menjadi sex slave Rey dan kawan2nya hingga sekarang.
Berpindah dari pesta satu ke pesta yang lain, berpeluh birahi kadang berbilur dan berdarah.

(from : AWS)

Memotret mbak sita

February 16, 2010
Saya adalah seorang fotografer yang bekerja di sebuah majalah wanita. Selama ini saya sering memotret model tapi mereka semua mengenakan busana lengkap dengan mode terakhir. Sewaktu ribut – ribut soal pornografi dan pornoaksi beberapa waktu yang lalu di kantor kami juga terjadi perdebatan seru, saya termasuk yg menganggap biasa saja tentang soal itu.

Salah seorang teman kantor namanya Sita menanyakan pada ku apakah kamu pernah memotret model bugil?” Terus terang saya belum pernah jadi saya jawab dengan mantap, “Belum mbak, emang kenapa?” “Aku nggak ngerti kenapa ya ada orang yang mau dipotret begitu”, jawabnya.

Memang Sita orangnya manis banget.Sesosok ibu muda berjilbab dan sudah berkeluarga. Umurnya baru 27 tahun, punya anak berumur 1 tahun. Dia juga salah satu editor andalan perusahaan kami. Boleh dibilang dia adalah primadona di kantor kami. Saya coba iseng-iseng bertanya kepadanya, meminta Mbak Sita untuk dipotret tanpa busana (gila ya…? kalo dia marah … atau dia mau, trus kalo ketahuan suaminya bisa bubar….!!! Padahal pacar sendiri aja belum pernah difoto bugil…).

So, saya to the point aja, “Ehm … Mbak Sita mau nggak kalo saya potret tanpa busana, tapi ini bukan porno lho, saya buat yang artistik”.

Dan diluar dugaan ternyata dia mau, saya sendiri tidak menyangka jawabannya,”Betul nih, aku mau dong tapi dengan syarat, muka dan tanda-tanda fisik aku disamarkan atau ketutup. Pokoknya orang lain nggak boleh tau itu fotoku”, ujarnya.

Saya sendiri kaget setengah mati mendengar jawabannya, tapi udah kepalang basah saya pun bilang,”Oke, jadi kapan mbak Sita bisa punya waktu….”. “Gimana kalo nanti malam setelah meeting redaksi”, katanya.

Saya setuju. So… the moment come… Selepas meeting, kami ke ruangan dia sambil membawa perlengkapan foto. “Mau dimana mbak..pose nya.? Di studio aja ya, supaya nggak usah mengatur lighting lagi”, tanya saya. Kebetulan di kantor kami ada sebuah ruangan di sudut yang dijadikan studio foto.

“Boleh, yuk kita kesana…”, kata Sita sambil berjalan menuju studio. Sesampainya di studio saya menyiapkan lampu dan perlengkapan lain, sementara itu saya melirik dia mulai membuka kerudung, atasan dan celana panjangnya.tampak kulit punggungnya yang halus kuning langsat sedikit tertutup rambut kepalanya yang lurus coklat kehitaman tergerai jatuh di bahu dan punggungnya, kemudian kedua tangannya meraih lepas sangketan tali bra warna krem di punggungnya…sehingga kini kap nya mengendor membebaskan kedua bukit lancip bersemu merah diujungnya …hem payudara yang indah Sementara CDnya yang berwarna senada mulai diturunkannya melewati lututnya namun berhenti di betisnya, Sita diam sebentar.. mikir kayaknya, “Jadi nggak ya…, nggak deh, nggak jadi aja…” katanya.

Saya nggak coba bujuk cuma bilang “Ya udah…., kalo memang belum siap sih lain kali aja, atau memang dibatalkan aja”.

Sita diam sejenak terus dia kenakan lagi bra dan CDnya. Saya sih tidak masalah, bisa melihat tubuh telanjang Sita saja sudah anugerah besar. Ternyata dibalik kerudungnya selama ini tubuhnya masih sangat menarik.

“Ya sudah mbak, kalo gitu saya pulang , ya…”, saya pamit pada Sita.

Eh tapi ternyata dia malah merasa nggak enak,”eng…. sorry…aku nggak enak sama kamu karena udah janji…” katanya. “Sebenarnya aku nggak apa – apa kok… cuma malu aja telanjang didepan kamu, apalagi biasanya aku pake kerudung”.

Akhirnya bra dan CD yang udah kembali dipake dia buka lagi. “Tapi … janji nggak kelihatan mukaku ya…” pinta Sita. “Iya deh mbak, saya janji …”, saya jawab sekenanya karena hati saya berdegup keras melihat tubuhnya yang mulus itu telanjang lagi tanpa penutup sehelaipun

Akhirnya pemotretan jadi dilakukan. Awalnya cuma beberapa jepretan, tampak punggung sambil berdiri,saya coba arahkan dia untuk berpose “Mbak, tangan kirinya diangkat kebelakang kepala… oke bagus….trus kakinya dibuka sedikit…”. Sita menurut semua arahan saya, sampai akhirnya dia malah mau difoto seluruh badan dan menampakkan wajah ayunya. “Mbak… udah bagus posenya, difoto seluruh badan ya… oke sekarang wajahnyanya menghadap kamera..ya.”

Saya sudah lupa dengan janji pada Sita untuk tidak memperlihatkan mukanya tapi dia sendiri kemudian bilang, “Yah… keliatan deh mukanya, tapi udah kepalang deh… terusin aja… nggak apa-apa kok. Tapi awas kalo nggak bagus..mas.”.

Malah akhirnya dia mau difoto abis – abisan dengan berbagai pose indah tubuhnya tanpa busana itu. dan saya coba tanya apakah Sita mau berpose ‘hardcore’alias bersetubuh, “Kalo posisi ML mau kan ya mbak…”. Sita agak kaget dan wajahnya bersemu khawatir, “Sama siapa … emang ada siapa lagi diluar…kalo sama kamu nanti siapa yang motret”. “ya sama saya tentunya mbak, abis sama siapa lagi… mau saya panggilkan Ucup”, saya sebut nama office boy kantor.

“Gila ah… nggak mau kalo sama dia…mending sama kamu, mas…”, Sita protes. “Iya deh mbak…nanti saya pake tripod, timer dan remote…jadi bisa shoot otomatis. Cuman meskipun nggak sampe ‘keluarin’ tapi ‘masukinnya’ beneran ya supaya kelihatan natural”, saya berkilah (terus terang ini pertama kalinya buat saya, sama pacar sendiri aja belum pernah)

“Iya deh…tapi kalo udah nggak ketahan cepet keluarin di luar ya”, kata Sita. “Mudah – mudahan lho, soalnya saya belum pernah nih…”, saya berterus terang. “Wah… jadinya aku merawanin kamu dong …”, kata Sita lagi. Saya set kamera saya dan mendekati Sita.

Vaginanya sudah basah sewaktu saya coba pegang, “Udah basah kok mas…jadi nggak akan sakit”, Sita meyakinkan saya sambil memasang badannya posisi menungging . Saya buka retsleting membuka celana dan mengeluarkan penis yang sedari tadi sudah tegang. Akhirnya penis saya masuk juga ke dalam vaginanya. Terasa nikmat sekali, sambil menggoyangkan pinggul Sita mendesah lirih. Kami pun bersetubuh sambil setiap kali saya nyalakan remote untuk mengambil pose kami berdua .

Setelah berganti beberapa posisi, mengambil puluhan foto dan memory saya sampai habis pemotretan kami akhiri… tapi kenikmatan yang saya rasakan ini tidak mau saya lewatkan begitu saja. Kami terus bergoyang sampai akhirnya penis saya akan mengeluarkan sperma… Buru – buru saya akan cabut tapi dia tahan “jangan sekarang… aku lagi ….pengen mas …. terusin dulu…”, pinta Sita sambil mendesah lirih dan mencengkeram pantat saya.Posisi kami duduk berhadapan, . Akhirnya saya nggak bisa tahan lagi, penis saya berdenyut – denyut dan ngilu bangetdi ujungnya, akhirnya tak bisa kutahan lagi memancarlah sperma ke dalam vaginanya.

“oackh …enak banget mbak Sita …”, saya kecup bibirnya, dia cuma diam sepertinya malu dan gugup banget… saya juga jadi ikut ngerasa salah… “Maaf ya mbak…mustinya nggak sampe keterusan.begini..”, saya meminta maaf

“Nggak apa – apa… aku juga yang nggak bisa nahan…”, Sita berkata lirih. “Sini aku bersihkan dulu penis kamu…”, Sita mengambil tissue dan tiba-tiba menjilati seluruh penis saya. Setelah itu dia mengelap dengan tissue,”Kalo nggak dibersihin nanti jadi lengket, kasihan kamu kan pulangnya jauh..”

Akhirnya saya memakai kembali celana, kemudian mengambil kamera dan mengeluarkan memorynya. Sita masih telanjang dengan posisi terlentang di karpet, sementara kedua kakinya terbuka lebar lutut kirinya sedikit tertekuk

“Mbak, saya ambil memory satu lagi ya…nanti sambil pake bajunya saya foto lagi”, saya bergegas ke meja saya untuk mengambil memory cadangan. Tapi sewaktu akan kembali ke studio, saya merasa ingin kencing, sehingga saya mampir dulu ke toilet. Sewaktu kembali saya melihat pintu studio masih terbuka (saya lupa menutupnya…) dan saya intip ternyata Sita masih dalam posisi yang sama dan memejamkan matanya menikmati apa yang baru terjadi.

Saya mengambil beberapa foto termasuk close up vaginanya yang masih melelehkan sperma saya, lalu keluar dari studio membiarkan dia beristirhat. Sewaktu keluar saya melihat si Ucup sedang membersihkan ruangan.
“Cup…kamu jangan masuk studio dulu ya”, saya memberitahu Ucup.

“Kenapa pak, emang Bu Sita masih di situ…”, tanya Ucup polos.

“Lho kok kamu tahu tadi ngintip ya…”,saya agak kaget mendengannya.

“Tadi waktu bapak keluar dari studio dan ke toilet, saya sempat masuk kedalam mau membersihkan ruangan, tapi saya lihat Bu Sita lagi telanjang disitu ya saya keluar lagi, tapi sebelumnya saya sempat pegang tetek dan itunya, Bu Sita cuma mendesah…”, kata Ucup

“Ibu Sita lihat kamu…”,tanya saya. “Kayaknya sih nggak soalnya merem dan nggak bergerak lagi”, jawabnya. “Yah sudah… ini duit 50 ribu, kamu jangan bilang siapa-siapa ya”, perintah saya.

“Oke boss…tapi kalo boleh saya berkomentar, body Ibu Sita bagus banget ya pak…kalo saya punya istri kayak dia pasti tiap hari udah saya kerjain, wong cuman begitu saja saya udah basah kok”, Ucup berkomentar sambil cengar-cengir. “Yah sudah, kamu pulang aja…besok datang agak pagi buat terusin bersih-bersih”.

Sita saya bangunkan, Sambil mengelap memeknya yang basah oleh spermaku itu dengan selembar tissue kemudian dia kenakan kembali baju nya, saya teruskan mengambil foto. mulai dari pose dia mengelap kemaluannya tadi, terus beberapa pose dengan mengenakan CD dan bra saja sampai dia mengenakan setelan bajunya lengkap dengan jilbabnya.


Setelah selesai Sita bilang,”Aku bisa difoto dengan pakaian lengkap begini dong, yang cantik ya… tapi setidaknya aku pernah punya “foto nude” , meski cuma sekali… “. Aku mengambil sekitar 30 foto Sita dengan mengenakan Jilbab. Menurutku dia malah lebih terlihat menarik dengan pakaian seperti itu.

Setelah itu kami pulang, Sita menganggap hal itu seperti tidak pernah terjadi. Malah foto – foto itu nggak pernah dia tanyain apalagi dilihat… malu kali ya, padahal hubungan saya dengan dia masih baik-baik…

sampai sekarang….pose-pose telanjangnya masih tersimpan rapi dalam memory card saya

(from:AWS)

Gairah Seks Istri Tetangga Sebelah

February 16, 2010

Aku tinggal di perumahan baru di pinggiran kota P. Sebagian besar tetanggaku keluarga muda. Umurnya berkisar antara 25-35. Hanya satu dua yang berumur di atas 40 tahun. Tetangga sebelah kananku adalah pasangan yang belum mempunyai anak. Katanya, mereka pernah hampir punya anak tapi keguguran. Sementara tetangga sebelah kiri beranak dua, umur 5 tahun dan setahun. Dan, aku sendiri—sebut saja namaku Toni, punya satu anak. Umurku 31 tahun.
Karena sama-sama baru menempati rumah, paling lama 3 tahun, kami belum begitu akrab. Jarang saling bertandang, hanya saling sapa saat bertemu muka.
Yang aku ceritakan ini adalah tetangga yang punya dua anak itu. Namanya Tari. Orangnya cukup manis, umur 33 tahun, rambut sebahu, tinggi badan (hanya) 155 cm dan berat—mungkin, 46 Kg. Bodinya bagus meski tidak seperti model atau SPG. Kulitnya kuning langsat, mulus. Dulu, katanya, dia kerja di hotel. Jantungku kerap deg-degan ketika ia mengenakan daster dengan bawahan di atas lutut. Karena pikiranku agak kotor, sehingga birahiku sedikit naik saat melihatnya. Apalagi saat ia nungging mengambil pakaian untuk dijemur. Bagiku, itu sudah cukup menggairahkan.
————
Pagi itu, istriku berangkat menjenguk keluarganya di luar kota. Jelas, anakku yang masih berusia 1,5 tahun diajak serta. Sementara aku di rumah sendiri karena harus bekerja. Oh ya, sekadar diketahui, aku bekerja sebagai debt collector di perusahaan A.
Jarum jam menunjuk angka 9. Aku sudah memastikan diri tidak masuk kantor. Males, karena banyak tagihan yang belum bisa kuselesaikan. Setelah cuci muka dan membuat kopi serta menyulut rokok kretek, aku menuju depan rumah. Sepi. Mungkin semua sudah pada berangkat kerja.
Untuk mengisi waktu, aku mencabuti rumput depan rumah. Tak berapa lama kemudian, Tari keluar. Ia membawa ember berisi pakaian. Ia mengenakan kaos ketat dan celana pendek bermotif kembang. Aku bisa menikmati pemandangan itu dengan jelas karena rumah kami tidak berbatas tembok.
Sambil terus mencabuti rumput, berkali-kali aku meliriknya. Tampak depan, dadanya yang sedikit membusung—ukurannya sedang, dan perutnya yang rata. Pikiranku menjurus ke daging di selakangannya. Hm, pasti indah.
Tampak belakang, pantatnya lumayan padat. Kenyal berisi. Tak terlihat kalau dia punya dua anak. Mungkin ia rajin merawat, sehingga tubuhnya masih terlihat bagus untuk perempuan seumurannya. Aku yakin dia tahu aku melihatnya tapi kelihatannya dia tidak terlalu risih.
Selesai menjemur pakaian, ia masuk ke rumah. Terdengar anaknya yang kecil menangis, kemudian sekejap kemudian diam. Anaknya yang pertama masih di sekolah. Sedangkan suaminya pasti sudah berangkat bekerja.
Tak berapa lama kemudian, Tari berkata, “Mas minta tolong dong.”
“Iya Mbak, ada apa?”
“Tolong angkatin gallon air ke dispenser.”
Kondisi perumahan tengah sepi. Dengan dipeunhi pikiran kotor, aku masuk ke rumahnya. Sambil melirik Tari, gallon langsung kuangkat dan kutempatkan ke dispenser.
“Makasih ya.”
Sebelum meninggalkan rumah, aku sempat melihat anak kedua Tari tidur terlelap.
“Eh mas, Mbak Indi (istriku) pulang ya?”
“Iya Mbak. Pagi-pagi tadi berangkat.”
Aku males meneruskan mencabuti rumput. Gelas kopi kukemasi dan kubawa masuk ke dalam rumah. Setelah mencopot kaos, aku sandarkan tubuh di kursi ruang tamu. Pikiranku menerawang, menelanjangi tubuh Tari. Seolah-olah aku melihat jelas, tubuh Tari yang mulus, gunung kembar yang kenyal, puting berdiri, vaginanya yang menyembul.
Penisku mengeras. Celanaku sampai sesak. Karena tidak tahan, aku ke kamar mandi, lalu onani—aktivitas yang kulakukan sejak SMA. Tidak butuh waktu lama untuk memuncratkan sperma, karena birahiku memang tengah tinggi-tingginya. Rasanya lega, meski tidak senikmat senggama.
Kembali, kusandarkan tubuh ke kursi. Dalam sekejap, zz, zz, zz. Aku terbangun saat pintu rumah diketuk. Ternyata Tari.
“Mas bisa betulin kipas angin nggak? Ini tiba-tiba macet,” katanya sambil menenteng kipas angin ukuran sedang.
Tari mengenakan daster. Bawahannya hanya di atas lutut sedikit. Meski baru saja onani, aku tetap greng. Apalagi aroma Tari tercium jelas. Rupanya ia baru saja mandi.
“Bisa nggak mas?”
“Eh, iya. Maaf. Saya coba ceknya Mbak.”
Aku ambil obeng dan mencopot bagian-bagian kipas itu di lantai. Tari berdiri di sampingku. Hm, kakinya mulus. Bulu-bulunya yang jarang-jarang itu terlihat jelas. Kata orang, perempuan yang punya bulu kaki birahinya tinggi.
Mataku tak henti-hentinya melirik, sementara tanganku terus bekerja. Setelah kucek, sepertinya tidak ada yang rusak. Dugaanku tidak salah. Saat kutancapkan ke listrik, kipas menyala. Angin berhembus kencang. Daster Tari pun terangkat.
Tari kaget. Ia langsung menutup bawahan dasternya. Sayang terlambat. Aku sudah terlanjur menikmati celana dalamnya yang berwarna merah. Jantungku berdegup.
“Maaf. Tidak sengaja,” kataku tergagap sambil mematikan kipas.
Tangan Tari masih menyilang tepat di bagian selangkangan. Tentu saja, mataku fokus ke bagian itu. kontrolku hilang, cleguk!, aku menelan ludah. Mengetahui itu, Tari tersenyum dan menarik tanganku agar berdiri. Dia membelai dadaku. Bibirnya di dekatkan ke mulutku, tapi sebelum sampai aku sudah menyosornya.
Kesadaranku masih utuh. Kutendang pintu rumah hingga menutup. Lalu sambil terus berciuman dan tanpa berkata-kata, kugeret Tari ke ruang tengah. Dia menurut saja.
Rupanya birahi Tari sangat tinggi. Dia membalas ciumanku dengan lahap. Tangannya juga sudah bergerilya ke selangkanganku. Aku tidak tinggal diam. Kulepas dasternya dan wow! ternyata dia tidak mengenakan bra. Gunung kembarnya mengacung. Putingnya yang berwarna merah kecoklatan, mengeras.
Perlahan dia mendorongku ke kasur tipis di ruang tengah yang biasa kugunakan nonton teve. Tangannya dengan lincah membelai penisku dari luar. Kemudian dia melepaskan celanaku, menyergap penis dengan mulutnya. Tangannya menekan urat di bawah kantong penis. Rasanya nikmat betul. Sepertinya dia tahu betul titik rangsang lelaki.
Beruntung, aku baru saja onani, jadi tidak cepat orgasme. Selesai mengulum penisku, Tari berjongkok, mencium bibirku, dan mengarahkan vaginanya yang masih tertutup celana dalam ke arah penis. Dia mendesah,”Ooohh, aaaahhh.”
Kutarik tubuh Tari dan kutelentangkan. Wow, bodinya masih yahud. Dua gunung kembarnya mengacung, tidak terlalu besar tapi padat berisi. Perutnya rata. Kulitnya mulus. Di beberapa bagian terdapat tahi lalat.
Kucumbui bibirnya, leher, kemudian kulit diantara gunung kembarnya. Ia merem melek, tubuhnya menggelinjang. Kujilati putting sebelah kiri, kuremas gunung kembar sebelah kanannya. Begitu sebaliknya.
“Aaahhh, oooohhh, aahhhh”
Jilatanku kian turun. Pusarnya kusapu dengan lidah. Tangan kananku menggerayangi paha bagian dalamnya, tangan kiriku membelai lembut selangkangannya. Tari berkelejotan sambil terus mendesah.
Tibalah saatnya mulutku beraksi di sembulan daging di selangkangan. Kujilati bagian itu. celana dalamnya basah. Campur antara ludahku dan lender kenikmatan Tari. Rambut vagina yang keluar, kusapu pelan. Belahan daging kutekan-tekan dengan jari.
“Aaahhh, oooohhh, aahhhh, ooughh”
Kutarik celana dalam itu dan terpampanglah sembulan daging yang ditumbuhi rambut-rambut hitam. Cukup lebat tapi bibir vaginanya masih sangat kentara. Indah sekali. Langsung saja kujilati bagian atas vagina itu, klitorisnya. Tari mengangkat pantatnya.
“Aaauhh, terussss.”
Sambil terus menjilati vagina, tanganku meremas-remas payudara Tari. Si empunya hanya bisa melenguh dan menggerak-gerakan tubuh dan pantatnya. Hingga beberapa menit kemudian, sambil mengangkat pantat, paha Tari menjepit kepalaku. “Aaaaaaaahh,” jeritnya. Rupanya dia orgasme untuk kali pertama.
Tangannya mendorong kepalaku agar mundur dari selangkangannya. “Geli,” katanya.
Tari lunglai. Peluhnya keluar, di wajah dan dada. Dia seka peluh di wajahnya. Matanya masih terpejam. Kubiarkan sebentar dia menikmati hal yang baru saja terjadi. Aku usap mulutku yang kena cairan vagina. Baunya khas.
Beberapa menit kemudian, kutindih tubuh Tari. Kucumbui bibirnya, kugesek-gesekkan penisku ke vaginanya. Setelah bibir, kusapu gunung kembarnya bergantian. Tari mendesah, tanda birahinya muncul lagi.
Tangannya mencari-cari penisku. Digenggamnya senjataku, lalu digesek-gesekkan ke klitorisnya. Aku segera ambil posisi berjongkok. Kaki Tari kurenggangkan, penisku kuarahkan ke vaginanya. Dalam sekali tembak, penisku langsung masuk. Vaginanya sudah cukup licin, sehingga dengan mudah, menelusup penuh.
“Aaahhh,” desah Tari.
“Penismu keras sekali. Aaaahhhh,” imbuhnya.
Harus kuakui, senjataku memang tak terlalu panjang. Hanya 15 cm. Diameternya mungkin hanya 5 cm. Tapi sangat keras. Urat-uratnya terlihat jelas. Tidak seperti bintang porno yang panjang tapi agak lembek.
Kudorong penisku lebih ke dalam. Pelan, kemudian keras. Begitu seterusnya. Tubuh Tari bergoncang. Pada setiap hentakan, Tari terus mendesah.
Biasanya, aku hanya kuat 3 menit, dari proses memasukkan hingga memompa. Tapi karena sebelumnya telah onani, aku tidak cepat orgasme. Denyut vagina Tari sungguh terasa. Saat penisku menusuk, terasa ada jepitan.
Aku cukup puas dengan ‘kinerja’ penisku. Tidak cepat panas alias memuntahkan sperma. Kucabut penisku, cairan-cairan kental tampak membasahi. Kuangkat tubuh Tari dan kuminta dia nungging. Belahan vaginanya tampak indah. Pantatnya membulat.
Sekali tusuk, penisku telah tenggelam. Pada posisi ini, hentakan kuperkeras. Tubuhku berbenturan dengan pantatnya yang berisi. Tari merintih. Peluh membasahi punggungnya. Dengan posisi agak menunduk, kuremas-remas gunung kembar Tari yang menggantung.
Cukup lama, kami dalam posisi ini. Aku belum juga orgasme. Malah Tari yang orgasme untuk yang kedua kali. Itu terjadi setelah penisku menusuk rahimnya. Tari melenguh, tangannya memegang erat kasur.
“Ooouugggghhhhh…”
Aku hentikan sodokanku. Serasa ada cairan hangat meleleh di penisku. Tari tertelungkup. Otomatis penis senjataku dari vaginanya. Peluh kami bercucuran.
Tari membalikkan badannya. Terlentang. Hm, menggairahkan. Gunung kembar dan putingnya masih mengacung, Lobang vaginanya memerah. Ada lelehan cairan di sekitar lobang itu.
Aku menjatuhkan badan di samping Tari. Tanganku membelai gunung kembar Tari. Putingnya kupilin-pilin. Setelah puas, kuraba vagina Tari yang licin. Tari menggelinjang. Ia bangkit dan berjongkok menghadapku. Tangannya mengarahkan penisku ke vaginanya.
Blesss, penisku langsung tenggelam. Tari memaju-mundurkan tubuhnya. Kemudian, mengangkat tubuh, dan menghujamkannya. Beberapa detik kemudian, dia menggoyangkan pantatnya. Penisku serasa diputar-putar.
“Aaaaahhh, oooooohhh,” Tari mendesah.
Tampaknya Tari ingin segera membuatku orgamse. Dia bergerak lincah, maju mundur, mengangkat menghunjam, dan menggoyangkan pantatnya. Agar tidak cepat orgasme, aku mengikuti gerakan Tari. Tapi orgasme itu sulit ditahan. Apalagi Tari kian beringas.
“Aaahhh, aku mau keluar,” kataku.
Tari menghentikan sesaat gerakannya. Tangannya menggesek-gesek kiltorisnya. Sepertinya ia ingin orgasme bersama. Tak berapa lama, Tari menggerakan lagi tubuhnya. Ia mendesah, “Aaahhh, aku juga mau keluarrr.”
Aku tak kuat menahan orgasme saat gerakan Tari kian tak beraturan.
“Oooohhhh….”
Tanganku meremas gunung kembar Tari sekuat tenaga. Pantat kunaikkan setinggi-tingginya. Spermaku menyembur beberapa kali. Crot, crot, crot!
“Aaahhhh…..”
Beberapa detik kemudian, Tari juga orgasme. Dia menghunjamkan selangkangannya. Tangannya memegang erat pundakku. Saat ia mengangkat tubuhnya, dari vaginanya keluar cairan. Spermaku dan cairannya. Kami terkulai. Terlentang. Telanjang.
———
Setelah sedikit merapikan rambut, Tari mengenakan daster dan celana dalamnya.
“Terima kasih.”
“Apanya?”
“Kipasnya.”
“Loh ininya?,” tanyaku sambil memegang penisku yang masih lemas.
Dia tersenyum, lalu berlalu membawa kipas anginnya. Jempolnya diacungkan, entah apa maksudnya.
Tak terasa 25 menit sudah kami bergumul. Aku berniat mengulanginya, tapi hingga kini belum ada kesempatan.
Tamat

(from:Be Rock)

Hello world!

February 16, 2010

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.