reuni SMA

Suatu hari kami mengadakan reuni dengan teman-teman SMA satu kelas kami dulu. Reuni disepakati tidak dalam bentuk seperti biasanya, yaitu di sekolah ataupun di gedung. Tapi reuni ini dilakukan di daerah pantai Pangandaran. Jumlah kami keseluruhan satu kelas mencapai 40 orang. Kami mencarter bis dari tempat mangkal kami di suatu sekolah di Bandung menuju ke Pangandaran, meskipun ada juga yang membawa kendaraan pribadi. Lama perjalanan sekitar 4-5 Jam. Sesampainya di pangandaran, kami menyewa rumah-rumah penduduk yang memang sangat banyak disewakan di Pangandaran.

Singkat cerita Kami telah sampai di Pangandaran, dan menyewa sekitar 10 rumah dan tiap rumah diisi 4 orang. Karena jumlah wanita ada 14 orang, maka ada 2 orang wanita yang serumah dengan pria. Kebetulan semua sudah menempati kamarnya masing-masing, karena aku, Herry, Linda, dan Sandra yang naik mobil Katanaku yang datang terlambat menempati rumah yang sama. Rumah yang kami tempati ukurannya sekitar 9 X 6 meter dengan 2 kamar tidur. Ada sebuah ruang tamu, kamar mandi, dan dapur. Rumahnya cukup bagus untuk ukuran di daerah ini. Berlantai keramik putih, dan terlihat bersih terawat dan ada sebuah TV di ruang tamu.

Herry dan aku adalah teman akrab sejak SMA, tetapi sekarang Herry kerja di Bandung, dan aku di Jakarta. Sedangkan Linda dan Sandra juga kerja di Jakarta. Linda merupakan salah satu bunga sekolah di SMA kami dulu. Meskipun satu kelas, aku tidak begitu akrab dengan Linda waktu SMA dulu. Singkat kata, Jam 17.00 kami semua kumpul di pantai Pangandaran untuk mengenang kembali masa-masa SMA dulu. Ada yang bermain sepak bola, volley, dan ada juga yang duduk membicarakan dan menggosipkan teman SMA-nya dulu. Sedangkan Linda aku lihat malahan duduk menyendiri di pasir. Sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan.

Sebenarnya aku sejak kelas 2 SMA naksir berat pada Linda, tapi berhubung tiada keberanian, dan juga terlalu banyak saingannya, akhirnya cuma jadi story bagiku. Tinggi Linda sekitar 165 cm, dengan tubuh seksi dan proporsional, kalau aku gambarkan mirip dengan penyanyi CA, dengan rambut sebahu dan bibir yang sensual. Tentunya membuat kumbang-kumbang tak jauh-jauh dari bunganya. Dengar-dengar sih dia sudah menikah dengan seorang pengusaha di Jakarta 2 tahun yang lalu.
“Eh… kenapa melamun sendirian… entar kesambet setan loh!” kataku sambil duduk di pasir di samping Linda. Dia pun hanya tersenyum simpul.
“Eh… Denny, iya nih… lagi pusing”, katanya.
“Emang pusing kenapa?” kataku. Eh dia tidak menjawab, malah memandang jauh ke lautan. Kemudian menyeka air matanya yang tak sengaja meleleh di pipi. Kami pun terdiam.

Tak lama kemudian terlihat teman-teman berfoto bersama di pantai.
“Hei Denn… Linda… jangan pacaran ajaa… ke sini”, kata Herry.
“Yo… Lin… ke sana”, kataku sambil memberikan sapu tanganku kepadanya. Kami pun foto bersama untuk kenang-kenangan di latar belakangi oleh warna merah kekuningan dari langit di garis cakrawala.

Setelah acara selesai kami pun kembali ke kamar masing-masing. Terlihat Linda masih menyisakan isak tangisnya, dan langsung menuju ke kamar. Pukul 8 malam kami pun makan malam dengan lauk yang telah disiapkan oleh seksi konsumsi. Kemudian Linda kembali lagi ke kamar dan begitu juga Sandra dan Herry. Jam 10 malam aku terbangun karena suara ngorok teman sekamarku, Herry, yang begitu ribut. Aku pergi ke ruang tamu dan melihat televisi. Wah nggak ada cerita yang bagus tapi karena nggak ada hiburan yang lain, dengan terpaksa kutonton juga acara televisi tersebut.

Jam 10.30 malam tiba-tiba Linda terbangun dan duduk di sebelahku dengan mata masih sembab.
“Belum tidur Lin?” tanyaku.
“Iya nih belum ngantuk… lagi pusing”, jawabnya.
“Pusing kenapa emang?” tanyaku.
Linda terlihat ragu-ragu dan diam. Tak lama kemudian dia pun berbicara.
“Yuk Den… aku mau ngomong, tapi jangan di sini”, katanya. Wah malam sudah gelap begini mau berbicara di mana kalau nggak di sini, pikirku.
“Ok deh… yuk keluar…” kataku.

Aku pun pergi keluar dengan Linda dengan Katanaku tanpa tujuan yang pasti. Katanaku pergi tanpa arah tujuan dan akhirnya kuhentikan di bawah pohon kelapa di pasir dekat pantai. Linda masih terdiam seribu bahasa, tapi akhirnya dia berkata.
“Gini Denn… aku lagi bingung banget”, katanya.
Dia terdiam lagi. Soalnya bicara sambil terisak-isak.
“Aku sebentar lagi mau cerai sama suamiku”, katanya sambil membenamkan wajahnya ke bahu kiriku. Kubiarkan dia menyalurkan emosinya. Akhirnya dia melanjutkan lagi.
“Yang kupikirkan cuma anakku yang berumur 1 tahun dan masih lucu-lucunya.”
Aku sudah tidak teratur lagi didekap oleh Linda, tapi aku kuat-kuatkan imanku. Tapi kemaluanku tidak mau kompromi nih.

Linda sekarang tidak lagi menangis di dadaku, malah mencium-cium dadaku. Aku sih kuat-kuatkan biar tidak terbawa. Maklum saja Linda sudah diangguri selama 4 bulan. Malahan sekarang dia menuju ke wajahku dan bibirnya menyentuh bibirku. Aku masih mencoba bertahan. Akhirnya aku tidak tahan juga, kusambut bibir Linda dengan pagutan yang lebih dahsyat. Akhirnya lidah kami membelit satu sama lain di salam mulut seperti dua ekor ular sedang bergumul. Kami pun pindah ke belakang yang agak lega. Tahukan Katana? ruangannya sempit sekali. Untung sudah aku modifikasi kursinya sehingga yang depan bisa ditekuk.

Kemudian tangan Linda ke arah belakang leherku dan tanganku mulai membuka kaosnya. Kebetulan dia tidak memakai BH jadi lebih mudah. Tanganku kuusapkan ke atas bukit kembarnya dengan elusan-elusan yang penuh penghayatan. Aku raba-raba putingnya dan sedikit-sedikit kupelintir-pelintir. Tanganku yang satu memegangi punggungnya dan kami masih berciuman kemudian dia kurebahkan ke kursi dan aku jongkok di bawahnya. Sempit sekali memang, tapi kalau sudah nafsu jadi luas rasanya. Kemudian aku jilati pusarnya hanya… “Aahh… ooo… hhh… ohh”, yang terdengar dari mulut Linda.

Kuturunkan celana trainingnya dan ternyata dia tidak memakai CD. Wah memang sudah niat nih sepertinya. Kemudian dia taruh kedua kakinya ke atas pundakku dan aku mulai mempermainkan liang kewanitaannya. Kuraba-raba permukaan kewanitaannya dengan tanganku dan tekanan-tekanan yang khusus. Desahannya semakin menjadi-jadi, “Ahhsss… Den… ohh….” Kemudian kugosok-gosok belahan Labianya dan dia pun semakin mengerang kenikmatan. Kemudian kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang kemaluannya dan menyentuh seonggok daging yang disebut klitoris dan aku sentil-sentil dengan ujung jari. “Dennyy… ahhh… ohhh… terruuss..” terasa lembab ruangan di dalam lubang kemaluannya dan terasa basah. Aku tambah frekuensi memainkan klitorisnya dan dia pun sudah tidak tahan.

“Ooohhh… Dennnyy… ahhh…” sambil dia agak mengejang. Sepertinya dia sudah klimaks. Gila, cepat benar dia klimaks. Tapi aku biarkan. Langsung aaja kubuka jeans-ku. Susah sekali ternyata membuka celana di dalam mobil. Kubuka cuma sampai lutut dan aku keluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak 45 derajat. Aku langsung duduk di sebelahnya dan kemudian Linda kusuruh duduk di atas batang kemaluanku. Agaknya dia sudah benar-benar kehausan. Dia mau saja ketika kusuruh duduk di atas batang kemaluanku.

Akhirnya batang kemaluanku pun habis ditelan liang kenikmatan Linda. Saat dimasukkan sepertinya dia masih dalam keadaan orgasme, sehingga terasa liang kenikmatannya menjepit dan mengurut-urut batang kemaluanku. Aku sih merasa semakin enak saja. Setelah itu dia mulai mengambil inisiatif naik turun. “Ohh… ahh… shhh… yess… ouhhh…” jeritnya sambil memegang-megang kepala, takut kalau kepalanya menyentuh kap mobil. Mobil pun ikut bergoyang-goyang. Wah gawat nih kalau ketahuan orang, pikirku.

Setelah 10 menit acara naik kuda maka Linda pun mendesah, “Dennn… sshh… akuu… kkell… iimmm… aaksshhh… ohhhsss…” terasa semburan air menerpa kepala batang kemaluanku. Kubiarkan batang kemaluanku masih tertancap di dalamnya. Terasa lagi remasan-remasan klimaks liang kemaluan Linda. Akhirnya Linda pun mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya. “Wah Denn kamu hebatt… belum apa-apa”, katanya memujiku. Sepertinya dia sangat kelelahan. Dia pun berpakaian kembali. Aku tentu saja sewot diperlakukan seperti itu. Ada sesuatu yang harus diselesaikan nih, pikirku.

“Lin turun yuk!” kataku dan dia pun menurut.
Sesampainya di kap depan mobil. Kusergap Linda. Kedua tangannya kutaruh di atas kap mesin dalam posisi menunging. Kuturunkan celana training-nya selutut dan kukeluarkan alatku yang masih berdiri dari celana lewat retsleting. Aku memang sengaja tidak memakai lagi CD-ku soalnya sudah niat mau memperlakukan Linda di kap mesin mobil.

“Ahh… Denn… apa-apaan nih”, protes Linda.
Aku diam saja. Langsung kutusuk liang kemaluan linda dengan alatku.
“Ooohh… Dennyyy… shh… ahhh… ohhh…” jerit Linda.
“Biar impas”, bisikku ke telinganya.
Setelah sekitar 5 menit Linda pun menjerit, “Dennyy… aku… laggii… ohhhss… akkhh…” Wah dia klimaks lagi. Langsung saja aliran spermaku yang sudah di kepala batang kemaluan juga tidak mau kompromi. Dengan semakin menambah frekuensi genjotan akhirnya menyemprotlah semua air mani ke dalam liang kemaluan Linda. “Oohh… aku… jugaaa… ssshh…”

Tiba tiba ada lampu mobil menyoroti kami dan ternyata segerombolan preman dari daerah tersebut, mereka mendekati kami dan mengacungkan celurit.
“Pilih harta atau nyawa!” teriak yang berewok.
“Ammppuunn Pak… ampunnn… amppunnn…” kataku.
“Denn… Denn… bangun… Dennn… kita sudah mau pulang ke Bandung”, suara Herry membangunkanku.
Aku bangun antara sadar dan tidak. Terasa celana dalamku basah. Wah ternyata cuma mimpi toh. Rupanya aku tertidur waktu lihat siaran TV.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: